Karena burung, anggota marinir pukuli anak SD

Ilustrasi tindak kekerasan
Ilustrasi tindak kekerasan

Oknum marinir memukul bocah SD, Minggu (10/1) lalu. Akibatnya, satu bocah dirawat di rumah sakit Prikasih, Cilandak, Jakarta Selatan.

T, bocah SD itu, bagian punggungnya luka-luka serta memar. T dirawat di rumah sakit sejak Minggu lalu dan hari ini sudah diperbolehkan pulang. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak Yohana Yambise dan Ketua KPAI Asrorun Naim.

"Kondisinya memang ada tanda tanda penganiayaan, namun saya belum bisa pastikan karena apa. Saya harus kaji lagi dengan tim saya," ujar Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise seperti dinukil dari Detik.com.

Insiden ini terjadi pada Minggu (9/1) lalu. Cerita yang beredar belum terang. Ada dua versi cerita.

Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI M Zainudin, seperti dilansir Antaranews.com, Rabu (13/1) menyatakan, peristiwa itu bermula sekitar pukul 11.00 WIB Minggu (10/1), saat seorang anggota Korps Marinir TNI AL sedang menjemur burung peliharaannya.

Tak lama berselang, T melintas dan mengambil burung itu. "Setelah berhasil mengambil burung, dia (T) kemudian lari tapi terjatuh. Burung tersebut lepas," ujar Zainuddin. T lalu ditangkap oleh si pemilik burung dan dibawa ke pos jaga Marinir. "Di pos jaga itulah, terjadi insiden pemukulan," kata Zainuddin.

Versi berbeda dari kejadian itu dikemukakan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Menurut Sekretaris KPAI Rita Pranawati korban bukan hanya T, tapi juga temannya M. Keduanya masing-masing berumur 12 dan 14 tahun.

M dan T dilaporkan dipukuli oleh anggota marinir karena dituduh mencuri burung. Padahal, M dan T hanya bermain layang-layang. "M mendapatkan kekerasan setelah T ditanya mencuri dengan siapa. Namun, M akhirnya dilepaskan dengan diberi kain kassa, obat merah dan uang Rp100 ribu," kata Rita seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Purwanto, orang tua salah satu korban melihat kekerasan yang dilakukan lima anggota marinir di dalam kompleks marinir Cilandak. "Purwanto sendiri mengaku terkena sabetan dan pukulan.

Dia tidak berdaya untuk menolong anaknya," kata Ilma Sovri Yanti dari Satuan Tugas Perlindungan Anak. Sedangkan menurut Zainuddin pemukulan itu hanya dilakukan oleh satu anggota.

Zainudin menilai pemukulan itu sebagai tindakan yang sangat berlebihan. "Saya, atas nama TNI AL memohon maaf atas kejadian ini. Sekali lagi kami mengakui tindakan pemukulan anggota kami terlalu berlebihan," kata dia.

Menurutnya, perwakilan TNI AL sudah menemui keluarga korban dan sepakat masalah ini akan diselesaikan secara kekeluargaan. Biaya pengobatan dan perawatan korban di rumah sakit akan ditanggung. T akhirnya dirawat di RS Prikasih, Pondok Labu.

Walau ada penyelesaian secara kekeluargaan, kasus ini akan diproses secara hukum. "Apapun alasannya proses di internal tetap berlaku. Sekarang yang bersangkutan diproses di POM AL," kata Kasubdispenum TNI AL Kolonel Suradi kepada VIVA.co.id, Rabu (13/1).
Suradi menjelaskan, sanksi yang diberikan bisa berupa sanksi disiplin militer dan sanksi pidana.
"Pasti, sanksi disiplin sesuai aturan militer. Kalau perbuatannya melanggar aturan hukum pidana bisa dikenakan sanksi pidana, bisa dua-duanya," ujarnya.

Orang tua korban, mengaku telah melapor ke Polsek Pasar Minggu. T, juga sudah divisum di RS Pasar Polri.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1OOo0R3
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat