Jatuhnya harga minyak dunia bukan masalah serius

Ilustrasi kilang minyak
Ilustrasi kilang minyak

Optimisme pada setiap kondisi yang tidak menyenangkan memang perlu. Seperti saat kita menyikapi pemberitaan mengenai jatuhnya harga minyak, karena itu tidak selalu berarti buruk.

Jatuhnya harga minyak bukanlah penyebab terbesar kekacauan ekonomi global, seperti layaknya dahulu kala. Kekacauan akan benar-benar terjadi jika para pemasok minyak memangkas produksi mereka.

Ekonom dari Bank of Amerika, Ethan Harris mengatakan berita tentang jatuhnya harga minyak tidak mengartikan sama dengan jatuhnya ekonomi dunia. "Melainkan saat ini persediaan minyak sedang melimpah melampaui permintaan yang ada," katanya dalam cnbc.com, Jumat (8/1/2016).

Saat ini, produsen minyak di dunia tercatat mencapai sekitar 1,5 hingga 2 juta per barel setiap harinya. Melimpahnya produksi minyak itu disumbang oleh tiga negara penghasil minyak terbesar di dunia: Saudi Arabia, Rusia dan Amerika Serikat (sebuah inkremental dari produsen lama seperti Irak).

Seperti diketahui, pada perdagangan Kamis (7/1/2016) atau Jumat pagi WIB, harga minyak dunia jatuh ke tingkat terendah dalam 12 tahun terakhir, seiring gejolak pasar modal Tiongkok yang kembali melakukan devaluasi yuan.

Minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, ditutup turun 70 sen atau 2,1 persen pada USD33,27 per barel di New York Mercantile Exchange.

Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Februari turun 48 sen (1,4 persen) menjadi USD33,75 per barel. Brent juga sempat jatuh ke level USD32,16 per barel, level terendahnya sejak April 2004.

Namun demikian, harga minyak saat ini mulai bergerak meninggalkan level terendahnya itu.

"Seiring dengan pasar saham Tiongkok mulai membaik saat ini, harga minyak pun ikut terkerek," kata Kang Yoo-jin, seorang komoditas analis di NH Investment dan Securities di Seoul, seperti yang dilansir Reuters.com.

Ekonom dari RBS, Michelle Girard mengatakan, "salah satu hal yang membuatku bingung adalah melihat reaksi orang-orang terhadap jatuhnya harga minyak sebagai sesuatu yang negatif. Jika harga minyak naik, apakah itu akan menjadi positif? Tentu saja tidak."

Salah satu dampak dari jatuhnya harga minyak ini adalah, anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) terkecil, Ekuador, kini memiliki utang yang bertambah dan mengurangi investasi ke beberapa negara lain. Ekuador pun menyatakan akan melanjutkan penghentian produksi minyak dalam beberapa waktu ke depan.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/22OWTeK
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat