Indonesia, Korea Selatan kembangkan jet tempur

TA-50, salah satu jet tempur yang dikembangkan oleh Korea Selatan.
TA-50, salah satu jet tempur yang dikembangkan oleh Korea Selatan.

Indonesia dan Korea Selatan meneken kontrak Kesepakatan Bagi-Ongkos (CSA) senilai USD1,3 miliar atau sekitar Rp18 triliun untuk mengembangkan program pesawat jet tempur KF-X/IF-X, Kamis (7/1).

Program tersebut ditujukan menghasilkan jet tempur baru untuk menggantikan armada pertahanan udara yang telah uzur, yakni F-4 dan F-5 yang diimpor dari Amerika Serikat.

Salah satu anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Turki, pernah tertarik untuk ikut mengerjakan proyek KF-X. Namun, negeri itu mengundurkan diri. Indonesia bergabung setelah Turki menyisih.

Konsorsium Korea Aerospace Industries (KAI) dan perusahaan teknologi pertahanan serta antariksa Amerika Serikat, Lockheed Martin, pada Maret 2015 berhasil mengamankan kontrak senilai 8,6 triliun won atau Rp99,4 triliun. Kontrak itu ditujukan bagi penyediaan 120 jet tempur bagi angkata udara Korea Selatan.

Dana sebesar itu, dilansir Kompas, belum sampai ke lini produksi massal, melainkan baru di tingkat produksi purwarupa, yang dicadangkan sebanyak tiga unit. Diperlukan enam purwarupa dengan biaya keseluruhan Rp 111 triliun. Dalam tahapan ini, Indonesia menanggung 20 persen keperluan biaya.

Jika program ini tetap berlanjut sampai lini produksi, belum diungkap harga per unit KF-X/IF-X. Spesifikasi yang akan diterapkan bagi Indonesia dan Korea Selatan pun belum dibeberkan.

Pembuatan dua unit pesawat purwarupa akan dilakukan di Korea Selatan dan satu unit pesawat sisanya dirakit di Indonesia.

Menteri Pertahanan, Ryamizard Riyacudu, menyatakan bahwa KF-X/IF-X adalah "generasi 4,5 (yang) lebih tinggi dari F-16".

Generasi terakhir F-16 adalah F-16 Block 60 dengan nama Viper yang lebih canggih F-16 Block 52 (varian terkini). Bahkan, Amerika Serikat belum menerbangkan F-16 Viper.

Menurut Ryamizard, seluruh komponen KF-X/IF-X menggunakan pengembangan dari Korea Selatan, tanpa melibatkan perusahaan negara lain seperti Amerika Serikat atau Perancis.

"Nanti dikembangkan di Korea, dituntaskan semua di sana," ujarnya.

Kedua negara, dilansir The Diplomat, telah menandatangani letter of intent (surat pernyataan kehendak) mengenai proyek ini pada 2009. Fase pertama proyek--yakni berkaitan dengan urusan teknis--berakhir pada 2014. KAI terpilih sebagai pengembang KFX pada Maret 2015.

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dan Korea Selatan telah berupaya menyiapkan perincian untuk menyelenggarakan fase kedua program KFX yang berhubungan dengan keteknisan dan pengembangan produksi.

Kontrak kedua melibatkan KAI dengan PT Dirgantara Indonesia. Penandatanganannya dilakukan oleh Direktur Utama PTDI Budi Santoso dan President and CEO KAI Ltd Mr Ha Sung Young. Kontrak ini, yakni Work Assigment Agreement (WAA), mencakup partisipasi Industri pertahanan Indonesia dalam kegiatan rancang bangun, pembuatan komponen, purwarupa, pengujian dan sertifikasi serta mengatur hal-hal yang terkait aspek bisnis maupun aspek legal.

Sebagai bagian dari pakta tersebut, PTDI akan mengirimkan 100 insinyurnya ke Korea Selatan pada Mei untuk ikut andil dalam rancang bangun pesawat baru. Seiring waktu, mereka juga akan berperan dalam pengembangan pesawat.

Dengan demikian, Seoul dan Jakarta telah mengambil langkah penting guna merealisasikan proyek. Korea Selatan berencana menyelesaikan proyek pada 2026.

Korea Selatan membutuhkan 120 pesawat. Indonesia sendiri akan membeli sekitar 50 unit.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1kRwmLx
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat