Harapan bebas Ba'asyir lewat peninjauan kembali

Terdakwa Abu Bakar Baasyir menunjukkan bukunya kepada wartawan saat menunggu sidang kasus dugaan tindak pidana terorisme dalam sel tahanan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu, 13 April 2011.
Terdakwa Abu Bakar Baasyir menunjukkan bukunya kepada wartawan saat menunggu sidang kasus dugaan tindak pidana terorisme dalam sel tahanan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu, 13 April 2011.

Setelah ditunda November tahun lalu, sidang peninjauan kembali kasus terorisme dengan terpidana Abu Bakar Ba'asyir akan digelar di Pengadilan Cilacap mulai Selasa (12/01/2016).

"Rencananya di ruang sidang Wijaya Kusuma pukul sembilan," kata Hubungan Masyarakat Pengadilan Negeri Cilacap Catur Prasetyo, Selasa (05/01/2016).

Menurut Catur, pihaknya sudah menetapkan tiga majelis hakim yang menyidangkan: Nyoto Hindaryanto, sebagai ketua, serta Zulkarnaen dan Akhmad Budiman, sebagai anggota. Sidang sendiri bersifat terbuka untuk umum. "Pihak kami melakukan koordinasi dengan polisi untuk keamanan," kata Catur.

Kepolisian Resor Cilacap, Jawa Tengah sendiri sudah menggelar gladi pengamanan sidang. Kepala Bagian Sumber Daya Polres Cilacap Komisaris Polisi Djoko Septiono menjelaskan gladi resik yang digelar di PN Cilacap ini melibatkan ratusan personel polisi.

Sebelumnya, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 15 tahun kepada Ba'asyir, sehingga yang bersangkutan mengajukan banding. Pada tingkat banding, Pengadilan Tinggi Jakarta meringankan hukumannya menjadi 9 tahun penjara.

Pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung (MA) membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Jakarta. Mahkamah mengembalikan putusan perkara itu pada putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, yakni 15 tahun penjara. Ba'asyir pun mengajukan PK atas vonis 15 tahun penjara itu.

Ba'asyir dinyatakan bersalah karena terbukti merencanakan dan menggerakkan orang dengan memberikan dana kegiatan pelatihan militer di Pegunungan Jantho, Aceh Besar.

Dana dihimpun Baasyir sejumlah Rp 350 juta, dengan rincian Rp 150 juta didapat dari Haryadi Usman dan Rp 200 juta dari Syarif Usman serta sebuah "handycam" dari Abdullah Al Katiri.


Puluhan masa pendukung Baasir melakukan unjuk rasa di depan gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Selasa 09/03/04. Dalam aksinya mereka menuntut pembebasan Baasyir yang dianggap pemerintah sebagai teroris dan membebaskan Indonesia dari campur tangan Amerika.
Puluhan masa pendukung Baasir melakukan unjuk rasa di depan gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Selasa 09/03/04. Dalam aksinya mereka menuntut pembebasan Baasyir yang dianggap pemerintah sebagai teroris dan membebaskan Indonesia dari campur tangan Amerika.

Ba'asyir menghuni Lembaga Pemasyarakatan Batu sejak 6 Oktober 2012 setelah dipindah dari Rumah Tahanan Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Namun 15 Januari 2013, ia dipindah ke Blok D Lembaga Pemasyarakatan Pasir Putih, Nusakambangan.

Tim pengacara muslim Achamd Michdan berharap, peninjauan kembali putusan 15 tahun terhadap Baasyir dapat berubah. "Setidaknya ada perubahan terhadap putusan ini. Karena fakta persidangan tidak memenuhi unsur intelectual crime," kata Achmad kepada Kompas.com.




from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1kS15bd
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat