Dua nasionalisme Edhi Sunarso

Seniman patung legendaris, Edi Sunarso, saat pameran karyanya di Salihara, Jakarta Selatan, 14 Agustus 2010
Seniman patung legendaris, Edi Sunarso, saat pameran karyanya di Salihara, Jakarta Selatan, 14 Agustus 2010

Sebelum Presiden Soekarno membangun monumen Selamat Datang untuk menyambut tamu internasional Asian Games IV 1962 yang menginap di Hotel Indonesia, sebagian besar masyarakat cuma mengenal patung-patung tradisional.

Karenanya, Edhi Sunarso--pembuat patung bersejarah itu--dianggap salah satu perintis seni patung modern di Indonesia. Dalam proyek tersebut ia bahkan yang memulai penggunaan teknik cor dengan bahan logam untuk pembuatan patung raksasa pertama.

Begitulah. Ia kemudian populer sebagai pencipta monumen-monumen besar, di samping pembuat diorama sejarah di sejumlah museum berbagai kota. Saya belum menemukan catatan yang menunjukkan, patung-patungnya yang bukan monumen, menjadi karya penting dalam perkembangan seni rupa modern Indonesia.

Di jalur itu, mesti diakui, reputasinya tidaklah secemerlang perupa lain seperti But Mochtar, G. Sidharta, atau Rita Widagdo. Bukan pula bermaksud mengecilkan, dari sejumlah wawancara dan kutipan pernyataan yang pernah dipublikasikan, Edhi Sunarso tidak mengesankan sebagai konseptor ulung.

Bagi saya, sosoknya lebih terlihat sebagai visualizer yang sangat berhasil menerjemahkan gagasan dan gairah besar Soekarno mengenai revolusi, nasionalisme, dan berbagai idealisasi yang menyertainya.

Tapi kenyataan itu justru mengantar pada perspektif lain. Menyadarkan kita pada kualitas kesenimanan Edhi Sunarso yang terpancar dari kekuatan karya-karyanya: ikonik, relevan, dan menyatu dengan publik. Di tangannya, karya seni berhasil luruh menjadi bagian keseharian di dalam ruang-ruang kehidupan masyarakat.

Menjadi sangat menarik ketika pada era Soeharto, ia masih membuat patung monumen. Tanpa pernah disadari, hal itu menempatkan dirinya pada posisi unik sekaligus penting sebagai perekam perubahan drastis konsep nasionalisme dari Orde Lama ke Orde Baru. Perbedaan preferensi dan karakter dua pemimpin awal bangsa, Soekarno dan Soeharto, mengemuka melalui karya-karya Edhi Sunarso di ruang publik.

Patung-patung monumen pesanan Soekarno sampai kini tetap merupakan karya terbaik Edhi Sunarso. Barangkali karena ia bisa merasakan langsung gelora semangat yang menggelegak di setiap taklimat dan cara Soekarno memberi contoh, lalu menerjemahkannya secara hidup dalam patung-patung gigantik berciri realisme sosialis.

Figuratif, realis, namun terasa superlatif, dilebih-lebihkan, misalnya dalam gestur tubuh yang serba besar dan kokoh. Objeknya pun rakyat biasa, tanpa sedikitpun usaha mengasosiasikan dengan figur-figur besar atau berkuasa.

Tugu Selamat Datang di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta (25/6/2014). Monumen ini berupa patung sepasang manusia yang sedang menggenggam bunga dan melambaikan tangan.
Tugu Selamat Datang di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta (25/6/2014). Monumen ini berupa patung sepasang manusia yang sedang menggenggam bunga dan melambaikan tangan.

Gaya tersebut tidak autentik. Patung sejenis banyak dibangun Josef Stalin di Uni Soviet, sekretaris jenderal Komite Pusat Partai Komunis yang berkuasa pada 1922-1953. Sangat berbeda dengan patung-patung modern di Eropa Barat yang meneruskan tradisi Yunani dan mengidealisasikan manusia sebagai makhluk paling sempurna (antroposentrisme).

Patung-patung realisme sosialis hingga kini masih bisa dinikmati bukan hanya di pecahan Uni Soviet, tetapi juga negara-negara Eropa Timur. Gaya serupa terlihat pada patung Pak Tani atau patung Pahlawan di kawasan Menteng karya seniman Uni Soviet, Matvei Manizer, dan anaknya Otto Manizer, yang dikapalkan ke Jakarta setahun setelah patung Edhi Sunarso tegak berdiri di pusat Ibukota.

Soekarno, dan para pemimpin blok Timur lain, tentu percaya propaganda seperti itu diperlukan karena efektif menggelorakan semangat dan nasionalisme rakyat. Tapi pada Soekarno ada faktor lain, yang oleh sejarawan Ong Hok Ham disebut nasionalisme romantik.

Kecenderungan itu bisa diperiksa pada selera artistiknya yang sangat memuja kecantikan dan keindahan. Indonesia, di mata presiden pertama itu, adalah sesuatu yang indah dan bergelora. Persis seperti patung-patung Edhi Sunarso kala itu.

Bertolak belakang dengan Soekarno, selera dan apresiasi seni Soeharto sangat buruk. Saya bahkan menilai ia tidak sedikitpun berminat pada kesenian.

Sepanjang Orde Baru, pemerintah memang semakin banyak membangun patung-patung monumen. Namun karya-karya tersebut terasa dibuat tanpa konsep artistik yang kuat. Keragaman itu di satu sisi lebih menarik karena memberi ruang pada semua gaya, termasuk nonfiguratif dan abstrak yang tidak disukai Soekarno.

Di sisi lain, tema yang digarap sebagian besar berupa figur pahlawan atau sejarah kepahlawanan yang militeristik. Di beberapa tempat tertampak visualisasi dari kesenian tradisi. Jadilah kemudian mahakarya Edhi Sunarso di bundaran Hotel Indonesia kini disejajarkan dengan patung Jenderal Sudirman di selatan dan Arjuna Wiwaha di utara.

Rupanya begitulah idealisasi Soeharto mengenai Indonesia yang baru. Di atas pemujaan pada militer dan puncak-puncak kebudayaan daerah itu pula ia membangun nasionalisme baru. Dalam arus baru tersebut Edhi Sunarso terus membuat sejumlah patung, antara lain Slamet Riyadi (Ambon), Ahmad Yani (Bandung), Gatot Subroto (Surakarta), Yos Sudarso (Surabaya), dan banyak lagi.

Barangkali tetap baik secara artistik, tapi sudah kehilangan relevansi, watak kosmopolit (kesesuaian gaya dan tema dengan dunia luar), dan terutama manfaat atau pengaruhnya bagi orang banyak.

Sejatinya, kita sudah kehilangan Edhi Sunarso jauh sebelum ia wafat 4 Januari 2016. Kendati demikian, dunia seni rupa Indonesia tetap menghormatinya karena karya-karya monumentalnya akan selalu abadi.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1OTmgb2
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat