Cukai dari alkohol tak capai target

Foto ilustrasi industri minuman beralkohol
Foto ilustrasi industri minuman beralkohol

Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemkeu) melaporkan realisasi penerimaan bea cukai tahun 2015 adalah sebesar Rp180,4 triliun atau 92,5 persen dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2015 sebesar Rp195 triliun.

Dari total realisasi itu, untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, penerimaan cukai tak mencapai target. Ditjen mencatat realisasi penerimaan cukai per 31 Desember mencapai Rp144,6 triliun atau 99,2 persen dari target.

Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi mengatakan, dari total penerimaan cukai tersebut, realisasi terbesar masih dusimbangkan dari rokok.

Akhir tahun lalu, penerimaan cukai rokok berhasil menembus 100,3 persen dari target cukai rokok dalam APBN-P atau Rp139,5 triliun.

Upaya ekstra dalam bentuk pengawasan rokok (termasuk minuman keras illegal) mulai dari rokok polos, pita cukai palsu, pita cukai belas, salah peruntukkan, hingga personalisasi membuat capaian cukai rokok sesuai dengan target.

Dilansir Kontan.co.id, salah satu yang membuat target cukai tak tercapai adalah berasal dari penerimaan cukai alkohol. Pemerintah kehilangan potensi dari sektor tersebut sebesar Rp2 triliun.

Untuk penerimaan bea masuk sebesar Rp31,9 triliun atau 85,8 persen dari target.

Sementara penerimaan bea keluar tahun lalu mencapai Rp 3,9 triliun atau 32,2 persen dari target.

Rendahnya penerimaan bea keluar tersebut disebabkan oleh rendahnya harga crude palm oil (CPO) sebagai penyumbang utama ekspor Indonesia, yang belum mencapai batas pungutan bea keluar yaitu minimal USD750 per metrik ton. Dari CPO, perkiraan kehilangan adalah sebesar Rp8,1 triliun.

Di sisi lain, pemerintah mengakui masih menggantungkan penerimaan negara bea keluar dari ekspor industri mineral dan batubara (minerba). Lantaran harga CPO atau minyak kelapa sawit (CPO) tak kunjung membaik.

Direktur Penerimaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sugeng Aprianto mengatakan, pemerintah menargetkan penerimaan bea keluar sebesar Rp2,88 triliun pada 2016. Angka ini di bawah realisasi tahun 2015 sebesar Rp3,9 triliun.

Pihaknya mengatakan, kontributor bea keluar tersebut berasal dari dua perusahaan kelas kakap yakni PT Freeport Indonesia dan PT Newmont Nusa Tenggara.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1Of9iyL
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat