Chiropractic, terapi penyembuhan sakit tulang belakang

Seorang wanita Jepang sedang menjalani terapi chiropractic.
Seorang wanita Jepang sedang menjalani terapi chiropractic.

Awal tahun 2016 ini dunia kesehatan Indonesia digemparkan dengan munculnya kabar meninggalnya seorang wanita bernama Allya Siska Nadya (33 tahun) usai menjalani terapi di klinik chiropractic di kawasan Pondok Indah, Jakarta, pada awal Agustus 2015.

Siska sebelumnya sering mengeluhkan nyeri pada leher dan tulang belakangnya. Keluhan ini kemmungkinan karena gadis ini sering menenteng bawaan berat, yakni tas berisi laptop.

Untuk menyembuhkan rasa nyeri itu, Siska pun sempat menjalani fisioterapi atau sekadar pijat. Dengan tekad untuk menyembuhkan rasa nyeri yang mengganggu, kemudian Siska mendatangi klinik terapi chiropractic dan ditangani terapis asing, Randall Caferty.

Apa sebenarnya chiropractic itu?

Banyak orang yang belum mengetahui chiropractic meskipun sebenarnya terapi ini sudah ditemukan 121 tahun yang lalu oleh Daniel David Plamer.

Seperti dipaparkan oleh situs Citralife Cheropractic, chiropractic merupakan metode terapi yang memfokuskan pada pengkoreksian tulang belakang, otot, dan persendian saraf.

Koreksi ini dilakukan untuk membantu pergerakan sendi tulang belakang menjadi optimal, sehingga menghilangkan iritasi pada susunan saraf pusat yang terletak di tulang belakang.

Seperti telah diketahui, susunan pada saraf pusat mempengaruhi semua elemen kehidupan kita, mulai fungsi dari sel, jaringan, dan organ. Selain itu, semua kegiatan tubuh diatur oleh saraf, mulai dari bergerak, merasakan, hingga mekanisme semua sistem dalam tubuh kita.

Joanna Wilson, D.C, seorang ahli chiropractic asal New Zealand mengatakan bahwa chiropractic merupakan terapi menggunakan tangan yang dilakukan bukan hanya untuk mereka yang memiliki keluhan sakit di tulang belakang, tapi juga keluhan penyakit lain. Ini juga termasuk penyakit yang dialami bayi, anak-anak, dewasa, wanita hamil, bahkan lansia.

Sebelum menjalani terapi, pasien terlebih dahulu melakukan konsultasi bersama terapis untuk mengetahui keluhan yang dideritanya. Kemudian, pasien akan diminta melakukan rontgen tulang belakang sebagai panduan dilakukannya terapi chiropractic.

"Rontgen juga dilakukan, tak hanya untuk mengetahui kondisi dan kelurusan susunan tulang belakang, tapi juga untuk membantu mendeteksi kemungkinan adanya penyakit lain yang tersembunyi," papar Dr. Anthony K. Dawson, DC dari Klinik Chiropractic Indonesia kepada Tabloid Nova.

"Chiropractic aman karena kita mempelajarinya in detail dan kita punya observasinya. Jadi tidak seperti tukang urut yang main langsung tarik saja," kata Dr Tinah Tan, dokter chiropractic wanita pertama di Indonesia kepada Detikcom.

Berdasarkan konsultasi dan foto rontgen, kemudian seorang chiropractor bekerja. Seperti dipaparkan Okezone, chiropractor akan berusaha menemukan, menganalisis, dan mengoreksi sublukasi tulang belakang dengan melakukan tindakan yang disebut adjustment chiropractic.

Perawatan ini dilakukan oleh chiropractic dengan mengoreksi posisi tulang belakang yang tidak sesuai sesuai dengan penekanan ke arah yang spesifik.

Seringkali ketika perawatan ini dilakukan, terdengar suara "klik" mirip suara yang sama ketika "mengklikkan" jari-jemari kita. Suara tersebut sebenarnya dihasilkan oleh terlepasnya gas ketika dilakukan penyesuaian tulang belakang yang pada awalnya terperangkap pada persendian tulang belakang dan tertekan oleh proses penyesuaian tersebut tanpa menimbulkan rasa sakit.

Meskipun diklaim aman, seperti diwartakan KOMPAS Health, chiropractic bukannya tanpa efek samping. Sekitar 50 persen pasien yang menjalani chiropractic mengeluhkan efek samping nyeri di lokasi yang dimanipulasi yang bertahan sampai lebih dari satu hari.

Gerakan chiropractic yang ekstrim di leher bisa menyebabkan pembuluh arteri hancur dan menyebabkan stroke. Bahkan, beberapa ahli saraf melihat stroke dan hal itu terkait dengan chiropractic.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1MUM1Ae
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat