Buntut dugaan malpraktik Chiropractic merembet ke klinik lain

Kuasa Hukum keluarga mendiang Allya Siska Nadya, Rosita P. Radjah, menunjukkan foto Randall Cafferty. Randall diduga malpraktik dan kabur ke Amerika Serikat. Polri meminta bantuan FBI untuk menangkapnya.
Kuasa Hukum keluarga mendiang Allya Siska Nadya, Rosita P. Radjah, menunjukkan foto Randall Cafferty. Randall diduga malpraktik dan kabur ke Amerika Serikat. Polri meminta bantuan FBI untuk menangkapnya.

Petugas imigrasi klas 1 Jakarta Selatan memeriksa salah satu warga negara asing (WNA) yang praktik di Chiropractic First. WNA tersebut diamankan ditempat praktiknya di klinik Chiropractic First cabang Kota Kasablanka, Tebet, Jakarta Selatan. "Dia warga negara Inggris, untuk namanya mohon maaf saya tidak bisa kasih tahu," kata Kepala Imigrasi Klas 1 Jakarta Selatan Cucu Koswala, Jumat (8/1) kepada BeritaJakarta.com.

Menurut Cucu, WNA itu diamankan karena memiliki masalah keimigrasian. "Dia tidak bisa menunjukkan paspor," ujarnya. Ini melanggar Pasal 116 UU No 6 tahun 2011 tentang Keimigrasian. Dugaan lain adalah penyalahgunaan izin tinggal. "Dugaannya melakukan pelanggaran bekerja, tapi dengan izin tinggal kunjungan," ujarnya. Untuk proses penyelidikan, WNA itu diamankan Imigrasi Jakarta Selatan.

Imigrasi masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan belum bisa menentukan langkah selanjutnya yang akan diambil."Kami perlu dalami dulu. Jika dari hasil pemeriksaan diperlukan koordinasi dengan kepolisian, tentunya akan kami lakukan," tuturnya.

Selain itu, Polisi menyegel tempat klinik Chiroprator First yang ada di tujuh tempat. "Yaitu di Kelapa Gading, Taman Anggrek, Emporium Pluit, Kuningan, Gatot Subroto, PIM 1 dan Kasablanka," ujar Kasubdit Remaja Wanita dan Anak, Polda Metro Jaya AKBP Suparmo saat ditemui Detik.com, Kamis (7/1).

Selain karena tidak memiliki izin praktik, klinik-klinik itu disegel karena dugaan malpraktik yang menimpa Allya Siska."Kami police line sehubungan dengan adanya laporan dari keluarga Allya yang terapi di sini," ucapnya.

Allya Siska Nadya (33). Allya, tewas usai menjalani terapi di Chiropractic First, Pondok Indah. Allya tewas di RS Pondok Indah pada hari Jumat (7/8) tahun lalu. Sebelum tewas ia menjalani terapi di klinik tersebut karena merasa sakit pada bagian leher bagian belakang. Setelah terapi dua kali, ia justru lehernya luar biasa sakitnya hingga muntah-muntah.

Allya lalu dibawa ke RS Pondok Indah dan dimasukkan ke Instalasi Gawat Darurat. Usai beberapa jam berada di IGD, Allya tewas. Orang tua Allya lalu melaporkan kejadian dugaan malapraktik yang dilakukan Klinik Chiropractic First ke Polda Metro Jaya.

Keluarganya menolak autopsi atas jenazah Allya. Ayah almarhum Alvian Helmy Hasjim menyatakan keluarga Allya tetap menolak dilakukannya autopsi terhadap jenazah anaknya tersebut. Menurut Alvian ada berbagai cara untuk menjelaskan penyebab kematian Allya tanpa harus melakukan autopsi.

"Pembuktian terhadap kematian Allya bisa melalui keterangan ahli. Ahli bisa bicara. Perkembangan dunia pendidikan dan teknologi juga bisa menjawab kematian Allya tanpa harus autopsi," ujar Alvian dalam konferensi pers Jumat (8/1) yang dihadiri CNN Indonesia.

Suparmo juga akan memberikan laporan ke Dinas Kesehatan DKI Jakarta terkait hal ini. "Kami akan laporkan ke Dinkes DKI Jakarta karena klinik ini tidak ada izinnya padahal tempat ini sudah 2 tahun beroperasi," ucapnya.

Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama telah menginstruksikan Dinas Kesehatan DKI Jakarta untuk menutup semua klinik Chiropractic. "Saya minta Dinkes ke Polda untuk lapor. Kalau nggak punya izin saya minta dia tutup, karena itu nggak ada dasarnya," kata Basuki, Kamis (7/1), seperti dikutip dari BeritaJakarta.com.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti menyatakan penyidik telah berkoordinasi dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat untuk menangkap terapis Klinik Chiropractic First, Randall Cafferty yang diduga berada di Amerika Serikat.

Langkah terdekat yang akan diambil polisi adalah sesegera mungkin mengirimkan red notice atas nama Randall Cafferty kepada Divisi Hubungan Internasional untuk kemudian diteruskan kepada Interpol. Pengiriman Red notice ini guna mengetahui keberadaan dan membawa Randall kembali ke Indonesia untuk diproses sebagai terlapor dalam kasus dugaan malpraktik.

Polda Metro Jaya juga telah meminta bantuan kepada FBI dan Kepolisian Amerika untuk menelusuri latar belakang Randall dan kemudian diberikan kepada penyidik Polda Metro Jaya sebagai materi penyidikan. Pasalnya, dari informasi yang berkembang, selain diduga tidak memiliki izin praktik di Indonesia, Randall juga diketahui tidak memiliki latar belakang pendidikan di dunia kedokteran.

Bila tidak ada perjanjian ekstradisi antara Amerika dengan Indonesia, cara kedua ditempuh dengan mencukupi bukti di Jakarta, lalu bekerja sama dengan FBI, Randall diperiksa di Amerika. "Nanti apabila layak disidangkan di sana, bukti yang kami miliki akan diberikan. Mereka yang akan memproses di Amerika," ujar Krishna seperti dilansir CNN Indonesia.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1RetuGS
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat