Bank Dunia revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global

Sepertinya di 2016, ekonomi global belum bisa tumbuh lebih baik dari 2015.
Sepertinya di 2016, ekonomi global belum bisa tumbuh lebih baik dari 2015.

Rupanya perlambatan ekonomi Tiongkok memiliki potensi berbahaya bagi perekonomian global. Bank Dunia pun akhirnya kembali merevisi prediksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2016 ini.

Bank Dunia, melalui laporannya dalam Global Economic Prospects, memprediksi pertumbuhan ekonomi global tumbuh sebesar 2,9 persen tahun ini, 0,4 persen lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, yang diumumkan pada Juni 2015, sebesar 3,3 persen. Namun demikian, proyeksi itu masih lebih tinggi dibanding proyeksi pertumbuhan untuk tahun 2015 yang sebesar 2,4 persen.

Selain perlambatan ekonomi Tiongkok yang bisa menghambat pertumbuhan ekonomi negara berkembang, resesi yang terjadi di Brazil dan Rusia juga bisa menyumbang pelemahan, bahkan kepada negara dengan ekonomi terbesar di dunia, Amerika Serikat.

"Ada ganjalan yang begitu dalam tersembunyi di balik permukaan," kata kepala ekonom Bank Dunia, Kaushik Basu, seperti yang dilansir The Wall Street Journal. "Ekonomi global, dan terutama negara-negara berkembang, akan menghadapi jalan yang berliku."

Pemulihan yang terjadi di AS dan Eropa ternyata lebih lambat dari yang diharapkan sejalan dengan penguatan USD dalam ekspor, sementara perdagangan secara umum sedikit teredam oleh ekspansi di beberapa zona Eropa dan Jepang.

Ekonomi AS diprediksi tumbuh 2,7 persen tahun ini menyusul 2,5 persen ekspansi di tahun 2015, berikut dengan proyeksi penurunan tipis sebesar 0,2 dan 0,1 persen. Sementara ekonomi Tiongkok diprediksi tumbuh 6,3 persen tahun ini, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, yakni 6,7 persen.

Sementara, pertumbuhan negara-negara berkembang diprediksi sebesar 4,8 persen, di bawah dari proyeksi sebelumnya yang berada di angka 5,4 persen.

Ekonomi zona Eropa diprediksi tumbuh 1,7 persen, naik dari 1,5 persen di 2015 namun turun dari proyeksi sebelumnya di angka 1,6 persen.

Seperti diketahui, ekonomi Tiongkok, sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia melambat setelah pemerintahnya melakukan sejumlah reformasi keuangan.

Beberapa pasar negara berkembang terdampak karena Tiongkok, terutama di lini komoditas yang diproduksi, seperti di Brazil, Turki dan juga Indonesia. Dilansir usatoday.com, negara-negara ini, dan juga beberapa lainnya, diprediksi juga akan terdampak oleh kenaikan suku bunga The Fed bulan lalu.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1SBBAIX
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat