Arab Saudi putuskan hubungan diplomatik dengan Iran

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir.

Situasi di Timur Tengah kian memanas di awal pekan menyusul langkah Arab Saudi untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.

Kabar tentang pemutusan hubungan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, pada sebuah acara jumpa pers. Menurut Menteri Jubeir, misi diplomatik Iran serta elemen terkait lain di negerinya hanya punya waktu 48 jam untuk hengkang dari Arab Saudi. Menurutnya, Riyadh takkan membiarkan Iran merusak keamanan negara berpenduduk mayoritas Sunni tersebut.

Masalah yang mendasari keputusan Saudi memang tidak sepele.

Pada akhir pekan lalu, pemerintah Saudi mengeksekusi mati 47 narapidana yang menurut pihak berwenang tersangkut kasus terorisme. Di antara para tahanan penyongsong ajal itu, terdapat seorang ulama Syiah terkemuka Saudi yang dikenal sebagai juru kritik pemerintahan kerajaan yang berasal dari Qatif, provinsi Timur Arab Saudi, Nimr al-Nimr.

Kabar kematian sosok terpelajar yang acap kali dipanggil Syekh Nimr itu tidak ditanggapi dengan dingin, melainkan disambut dengan aksi protes. Kecaman tidak saja disuarakan dari dalam negeri, tapi juga oleh beberapa negara tetangga seperti Irak, Lebanon, Bahrain atau pihak Barat seperti Inggris. Bahkan, sekutu terbesar Saudi dari Barat, Amerika Serikat, menyesalkan keputusan eksekusi mati.

Pasalnya, AS selama berbulan-bulan telah berulang kali membicarakan potensi dampak eksekusi Syekh Nimr bagi ketegangan sektarian di kawasan--hal yang dapat kian meruncingkan pelbagai masalah seperti perang saudara di Suriah dan Yaman.

Pendekatan Arab Saudi yang kian agresif atas Iran sejak Raja Salman bertakhta tahun lalu, dilansir The Wall Street Journal, terlihat di Suriah dan Yaman. Di negeri yang disebut pertama, Saudi terlibat dalam upaya menggeser Presiden Suriah, Bashar Assad, yang didukung Iran. Di Yaman, mereka memerangi para pemberontak Houthi yang mendapat dukungan politik Iran.

Iran memberikan reaksi terkeras atas eksekusi Nimr lewat aksi pengunjuk rasa di Teheran membakar Kedutaan Besar Arab Saudi. Sebelum pembakaran dilakukan, massa yang oleh Presiden Iran Hassan Rouhani disebut "ekstremis" merusak mebel dan memecahkan kaca jendela.

Dalam pernyataan lebih lanjut, Jubeir menyampaikan bahwa serangan atas kedutaan Saudi di Teheran sejalan dengan aksi ofensif massa Iran atas sejumlah kedutaan besar di kota tersebut. Selain itu, ujarnya, selaras dengan kebijakan Iran merusak kestabilan di kawasan dengan cara menciptakan "sel-sel teroris" di Arab Saudi.

Dilansir Reuters, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian mengatakan bahwa meski Arab Saudi memutus hubungan diplomatik, "kesalahan besar dalam mengeksekusi (mati) Syekh Nimr" tidak dapat ditutup-tutupi.

Eksekusi mati yang berlangsung pekan lalu itu adalah yang terbesar di negara itu sejak 1980, demikian Human Rights Watch. Pada November 2015, kewenangan negeri telah mewanti-wanti bahwa eksekusi mati massal akan dilangsungkan pada akhir November 2015 terhadap 55 tahanan.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1O5BeF3
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat