Arab Saudi eksekusi mati ulama Syiah terpandang

Para pengunjuk rasa di Teheran, Iran, yang memprotes eksekusi mati Syekh Nimr.
Para pengunjuk rasa di Teheran, Iran, yang memprotes eksekusi mati Syekh Nimr.

Pemerintah Arab Saudi baru saja mengeksekusi mati seorang ulama Syiah terkemuka, Syekh Nimr al-Nimr, pada 2 Januari 2015 waktu setempat. Ia termasuk di antara 47 terpidana mati lain yang pada hari itu menghadapi maut. Tuntutan kepada mereka adalah tersangkut terorisme. Sebagian besar dari mereka berasal dari golongan Sunni yang berpartisipasi dalam serangan Al-Qaeda terhadap kerajaan.

Syekh Nimr, dilansir BBC, adalah seorang oposan pemerintah yang acap kali mengecam kebijakan pihak berwenang. Pada 2011, ia menjadi pelopor demonstrasi antipemerintah di provinsi sebelah timur negeri. Di daerah tersebut, penduduk mayoritas Syiah telah lama mengeluhkan perlakuan timpang pemerintah atas mereka.

Ia berusia 56 atau 57 tahun.

Jika mengacu ke laman Wikipedia, sang syekh telah berhadap-hadapan langsung dengan negara--hal yang agaknya membuatnya populer di mata kaum muda, baik di Bahrain maupun Arab Saudi.

Pria kelahiran Al-Awamiyah, Provinsi Timur, Arab Saudi, itu takpernah sungkan menyuarakan pemilihan umum yang berlangsung bebas. Pada 2009, ia menyarankan agar Provinsi Timur memisahkan diri--hal yang berujung penangkapan Al-Nimr dan 35 orang lainnya.

Saat protes merebak di negeri kelahiran Islam itu pada 2011-2012, Al-Nimr meminta para pengunjuk rasa untuk melawan pihak berwenang dengan kekuatan kata-kata, bukan kekerasan.

Pada Juli 2012, polisi menembak kakinya sebelum melakukan penangkapan. Ribuan orang turun ke jalan sebagai wujud protes. Dalam peristiwa itu, dua orang tewas tertembus peluru dari bedil polisi. Menyusul insiden tersebut, Al-Nimr mogok makan.

Pengadilan Pidana Khusus Arab Saudi menjatuhkan hukuman mati kepadanya pada 15 Oktober 2014 karena dianggap sebagai ancaman bagi pemerintah setempat. Saudara kandungnya, Mohammad Al-Nimr, ditangkap pada hari yang sama karena mengicaukan informasi mengenai pidana mati Syekh Nimr di Twitter.

Tidak lama setelah kabar kematian sang ulama meluas, para pengunjuk rasa menyesaki jalanan Teheran, Iran. Mereka mengayunkan kaki ke arah Kedutaan Besar Arab Saudi di pusat kota dan membakarnya.

Di Lebanon, Dewan Syiah Tertinggi negara tersebut mengecam eksekusi mati Al-Nimr sebagai "kesalahan gawat". Wakil Presiden Dewan, dikutip laman presstv, mengatakan bahwa "eksekusi mati Syekh Nimr adalah eksekusi atas nalar, moderasi, dan dialog.

Suara menentang datang pula dari Pakistan dan Bahrain, dan Irak. Perdana Menteri Irak mengecam tindakan pemerintah atas Al-Nimr di tengah permintaan dari para figur agama dan politik untuk memutus hubungan dengan pemerintah Arab Saudi.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, menyatakan sehari setelah eksekusi mati bahwa kerajaan Arab Saudi akan menerima akibat dari tindakannya serta mendapatkan "balasan Tuhan" atas kematian Al-Nimr.

Teguran tidak hanya datang dari negara berpenduduk mayoritas Islam. Para politikus Inggris serta sekretaris jenderal PBB pun menyuarakan kekecewaan.

The New York Times mewartakan bahwa pemerintah Saudi dalam beberapa pekan belakangan telah menyiapkan eksekusi mati bagi khalayak. Menurut laman itu, Al Arabiya menayangkan beberapa episode dokumenter mengenai perjuangan kerajaan Saudi melawan Al-Qaeda.




from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1R4nPDj
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat