Apakah kaidah KPST itu?

Ilustrasi pengecualian peluluhan fonem kata dasar "kristal" menjadi "mengkristal."
Ilustrasi pengecualian peluluhan fonem kata dasar "kristal" menjadi "mengkristal."

Kaidah KPST adalah kaidah peluluhan (atau penghilangan) fonem kata dasar yang berawalan k, p, s, ataut saat diberi awalan me- atau pe-. Kaidah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Huruf pertama LULUH jika huruf kedua adalah vokal. Contoh:
    • kali > mengalikan; pukul > memukul; salin > menyalin; tari > menari.
    • kali > pengali; pukul > pemukulan; salin > penyalinan; tari > penari.
  2. Huruf pertama TIDAK LULUH jika huruf kedua adalah konsonan. Pengecualian kaidah (dilambangkan dengan tanda * pada contoh di bawah) ini adalah kombinasi awalan pe- dengan kata dasar perawalan p yang diikuti konsonan. Pada kombinasi ini, huruf p luluh untuk melancarkan pengucapan dan mencegah dua huruf p yang berdekatan. Contoh:
    • kristal > mengkristal; proses > memproses; skor > menskor; transmigrasi > mentransmigrasikan
    • kristal > pengkristalan; proses > pemroses*; skor > penskoran; transmigrasi > pentransmigrasian

Ada 3 bentuk yang merupakan pengecualian untuk kaidah ini, yaitu:

  1. punya > mempunyai, bukan memunyai. Penyebab: kebiasaan.
  2. kaji > mengkaji, bukan mengaji. Penyebab: kata mengaji ada, tetapi memiliki makna khusus.
  3. syair > penyair, bukan pensyair. Penyebab: kebiasaan.


from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1PFl488
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat