2016, tahun cemerlang untuk bisnis e-commerce

Belanja online
Belanja online

Membaiknya perekonomian global membawa angin segar kepada Indonesia. Menteri Perdagangan Thomas Lembong mengaku lebih optimistis di 2016 dibanding tahun sebelumnya.

Tahun 2016, kata dia, menjadi momentum untuk berubah menjadi lebih gesit dengan terus bergerak memanfaatkan tren yang ada. Salah satu tren yang bisa digarap tahun ini salah satunya adalah bisnis e-commerce atau bisnis jual-beli online.

Menurut pria yang akrab disapa Tom ini, seperti yang dilansir Detik.com, tren ponsel pintar yang kini dimiliki hampir sebagian besar masyarakat milenial bisa dimanfaatkan untuk mendorong kegiatan ekonomi.

"Masyarakat akrab dengan smartphone, kita bisa lakukan revolusi smartphone bahkan dengan main sosial media. Harus semakin progresif dan semakin modern. Semakin giat membuka peluang, menjalin hubungan dagang, menggarap peluang dagang dengan luar," kata Tom.

Dengan pola perdagangan online seperti ini, kata Tom tidak hanya membantu pemasaran sebuah produk di pasar lokal, tetapi juga mengembangkan pasarnya ke negara lain.

"Semakin progresif ke luar dan membina peluang bisnis ke luar. Kita jangan defensif dan takut," kata Tom.

Lebih jauh, perbaikan kondisi ekonomi Indonesia di 2016 diyakini Tom akan didorong oleh pemulihan ekonomi global seperti yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Dengan pemulihan tersebut, diharapkan akan berdampak positif bagi perdagangan Indonesia dengan AS dan Eropa meskipun Tiongkok masih menyajikan beberapa tantangan.

Potensi industri ekonomi digital digital di Indonesia akan menanjak dengan nilai pasar USD130 miliar pada 2020 dari saat ini USD13 miliar. Peluang besar ini diharapkan digarap perusahaan e-commerce nasional, bukan asing.

Ahmad Zaky, CEO Bukalapak.com mengaku bahwa pengusaha Indonesia tak gentar berkompetisi dengan negara lain. "Kami tidak takut. Anak muda Indonesia tidak takut berkompetisi dan menghadapi negara lain," kata Zaky.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika Rudiantara memprediksi nilai transaksi e-commerce di tahun 2016 mencapai USD4,89 miliar, naik dari USD3,56 miliar di tahun 2015.

Pada 2016 akan ada 8,7 juta pembeli, atau naik dari 7,4 juta di tahun 2015. Sementara jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2015 diprediksi mencapai 93,4 juta naik ketimbang 2014 sebanyak 88,1 juta pelanggan.

"Nanti aturan di bidang eCommerce akan diterapkan pada tiga segmen yakni Usaha Kecil dan Menengah (UKM), pemain yang sudah mapan, dan startup," kata Rudiantara dalam indotelko.com.

Sebelumnya, eMarketer memprediksi penjualan ritel e-commerce di Indonesia pada 2015 mencapai USD3,22 miliar atau sekitar 1,4 persen dari total transaksi ritel.

Chief Executive Kibar Yansen Kamto mengungkapkan ada dua tren yang berkaitan dengan prospek e-commerce di 2016 ini.

"Pertama, kebangkitan produk kreatif Indonesia akan makin signifikan. Saya melihat tren. Artinya, kesadaran para penjual lokal di media sosial mulai berpikir untuk membangun platform e-commerce lokal yang lebih segmented (tersegmentasi)," ujar nya kepada Bisnis.com, Kamis (31/12/2015).

Pola perilaku tersebut, menurutnya, akan membuat produk lokal lebih mendapatkan tempat di hati konsumen, baik dari online store yang menjual pakaian desainer lokal hingga e-commerce yang memiliki sasaran pembeli lebih tersegmentasi.

Tren kedua yang akan muncul adalah tumbuhnya marketplace yang menyediakan layanan jasa akan semakin menjamur. Dia memprediksi akan banyak start-up baru dan membangun platform marketplace untuk jasa seperti jasa bengkel, tambal ban hingga jasa pesulap.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1VHTSrF
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat