Untung rugi MEA buat Indonesia

Perawat memeriksa alat kesehatan saat peresmian RSUD Pasar Minggu di Jalan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan, Desember 2015. Perawat adalah salah satu profesi yang akan dibuka untuk tenaga kerja asing pada MEA
Perawat memeriksa alat kesehatan saat peresmian RSUD Pasar Minggu di Jalan T.B. Simatupang, Jakarta Selatan, Desember 2015. Perawat adalah salah satu profesi yang akan dibuka untuk tenaga kerja asing pada MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN mulai berlaku 1 Januari 2016. Pemberlakukan MEA diprediksi akan mendongkrak pendapatan domestik bruto (PDB) ASEAN menjadi USD4,7 triliun pada tahun 2020.

MEA ini juga diiringi dengan pembukaan pasar tenaga kerja dan jasa ASEAN di beberapa bidang. Ada beberapa sektor jasa yang telah dibuka secara bebas. Pekerja sektor tersebut dapat bekerja lintas batas negara.

Sektor-sektor ekonomi yang dibuka adalah teknik dan rancang bangun, bidang kesehatan, tenaga survei, jasa akuntan, dan pariwisata. Dengan dibukanya sektor-sektor ini maka beberapa lapangan kerja juga dibuka. Profesi yang dibuka meliputi insinyur, arsitek, perawat, tenaga survei, tenaga pariwisata, praktisi medis, dokter gigi, dan akuntan.

Menurut Suharyadi, peneliti dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia delapan profesi ini bebas masuk mencari kerja di Indonesia. Maka, berpotensi mendorong persaingan dan bisa mendongkrak pengangguran dari kalangan terdidik.

"Kalau ini terjadi, ini akan menjadi warning bagi pemerintah," ujar Suharyadi seperti disiarkan Detik Finance.

Nah, jika tenaga kerja Indonesia berdaya saing rendah, mereka berpotensi kalah dan menjadi pengangguran. Suharyandi menilai, kualitas SDM dan ketenagakerjaan Indonesia di peringkat 5 ASEAN. "Masih kalah jika dibandingkan Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Thailand," ujarnya kepada Detik Finance.

Menurut Pusat Data dan Informasi Kementerian Tenaga Kerja angka pengangguran di Indonesia pada Februari 2015 mencapai 7,45 juta jiwa atau sekitar 5,81 persen dari jumlah angkatan kerja. Angkatan kerja Indonesia berjumlah di kisaran 120 juta jiwa. Sebagian bekerja di sektor jasa dan industri manufaktur.

Menurut Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementrian Tenaga Kerja, Khairul Anwar meskipun akan ada kemudahan orang asing untuk datang ke Indonesia saat MEA berlaku, mereka tak serta merta bebas lepas bekerja di Indonesia. Mereka harus memiliki sponsorhip yang berbadan hukum Indonesia jika ingin bekerja secara tetap.

Selain itu, Kementrian telah bersama-sama menyusun beberapa Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) dan menerapkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

"Sudah ada beberapa yang menyiapkan dengan baik. Yang paling bagus itu (sektor) pariwisata, yang kedua perindustrian, kominfo juga sudah bergerak, konstruksi sudah. Pertanian baru mulai," ujar Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemenaker Khairul Anwar, kepada Metrotvnews.com.

Pemerintah kini tengah mensiasati kondisi tenaga kerja dengan dua langkah. Pertama mempercepat peningkatan kompetensi tenaga kerja Indonesia, dan percepatan sertifikasi kompetensi yang telah disesuaikan dengan MEA agar tenaga kerja Indonesia dapat berkompetisi.

Khairul mengklaim, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat mencatat sudah ada 478 Indonesia insinyur bersertifikasi. Sedang Malaysia hanya memiliki 207 insinyur bersertifikasi dan Singapura 229 insinyur bersertifikasi.

Namun pada kenyataannya, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi mencatat perbandingan jumlah insinyur dengan penduduk Indonesia masih tertinggal jauh dibanding negara tetangga. Indonesia hanya memiliki sekitar 2.671 insinyur per satu juta penduduk.

Sedangkan Malaysia memiliki 3.337 insinyur persatu juta penduduknya.

Menurut Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri, seperti dinukil dari CNN Indonesia Indonesia sudah tertinggal beberapa langkah dibanding negara-negara tetangganya. Ia menyebut maskapai penerbangan negara lain sudah lama leluasa mendarat di berbagai kota di Indonesia. Selain itu, bank-bank milik Malaysia dan Singapura dengan mudah dijumpai di kota-kota besar Indonesia.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut MEA adalah sesuatu yang tak bisa dihindari Indonesia. Implementasi MEA, tergantung bagaimana pelaku ekonomi menyikapinya.

Bisa memperbesar kesempatan ekonomi Indonesia atau malah memperkecil. "MEA itu bisa dibilang kerjasama dalam persaingan atau persaingan di dalam kerjasama. Artinya, MEA bisa membuat pasar kita lebih sempit atau kita bisa memenangi persaingan," kata JK seperti dinukil dari CNN Indonesia.

Salah satu peluang adalah ekspor. Kementerian Perdagangan mengutip data dari Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari-Oktober 2015 terlihat bahwa neraca perdagangan non migas Indonesia ke kawasan ASEAN mengalami surplus sebesar US$1,6 miliar atau naik 257,13 persen.

"Periode yang sama tahun sebelumnya defisit US$1,02 miliar," kata Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Nus Nuzulia Ishak, kepada DetikFinance, Kamis (31/12).

Nus mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan dan menyiapkan sejumlah produk yang menjadi andalan Indonesia dalam menghadapi persaingan di MEA ini.

Dia membeberkan, untuk ekspor produk utama dan prospektif ke kawasan ASEAN dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2010-2014), ada beberapa komoditas yang tumbuh. Di antaranya, udang (naik 28.30 persen), kopi (23.84 persen), perhiasan (19.48 persen), rempah-rempah (15.52 persen), otomotif (14.55 persen), alas Kaki (13.12 persen), makanan olahan (12.67 persen), ikan & produk ikan (10.87 persen) dan kerajinan (10.63 persen)



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1kv79Xc
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat