Twitter berjanji menekan jumlah provokator di linimasa

Seorang perempuan berjalan di depan banner Twitter di Bursa Efek New York, Amerika Serikat (7 November 2013).
Seorang perempuan berjalan di depan banner Twitter di Bursa Efek New York, Amerika Serikat (7 November 2013).

Twitter berjanji akan menekan perilaku negatif di layanannya, terutama sehubungan dengan aktivitas bernuansa provokasi (trolling). Hal itu disampaikan Direktur Twitter untuk wilayah Eropa, Bruce Daisley, dalam wawancaranya dengan The Independent (26 Desember 2015).

Daisley menjamin, seiring ulang tahun yang ke-10 (2016), Twitter bisa menyajikan laman-laman terbaik yang lebih bertanggung jawab.

"Kami telah menghabiskan banyak waktu dan upaya dalam perkara keselamatan pengguna, daripada masalah lainnya. Langkah-langkah yang kami ambil berkorelasi langsung dengan pengurangan jumlah perilaku negatif dalam layanan," kata Daisley.

Twitter juga akan berusaha agar setiap perilaku negatif punya imbas langsung--hingga di ranah luring (luar jaringan, offline). Secara teknis, misalnya, mereka akan mendorong korban perilaku negatif mengekspos dan mempublikasikan nama-nama pelaku.

Daisley pun optimis, tindakan ini akan berdampak positif dalam bisnis Twitter.

Sebagai catatan, media sosial 140 karakter itu punya sekitar 320 juta penggguna aktif bulanan. Perilaku negatif--mulai dari provokasi, caci maki, hingga pelecehan seksual--menjadi salah satu masalah serius, yang menghambat pertumbuhan pengguna.

Lebih kurang, The Guardian menyebut perilaku negatif ini turut menghambat upaya Twitter, guna menjadikan layanannya sebagai kanal untuk mendapatkan kabar-kabar nan penting.

Awal tahun 2015, sebuah memo internal Twitter bocor. Di dalam memo itu, Dick Costolo--saat itu menjabat CEO Twitter--mengaku malu dengan posisi Twitter yang menjadi sarang perilaku negatif di internet.

Sejak itu, Twitter kian serius menangani penyalahgunaan layanan. Misalnya dengan meluncurkan "Safety Center", dan mempermudah pengguna berbagi daftar blokir. Boleh jadi, upaya macam itulah yang makin sering dilihat pada tahun 2016 mendatang.

Sekadar catatan, sejumlah pengguna terkemuka pernah merasakan dampak perilaku negatif di Twitter.

Putri aktor Robin Williams, Zelda Williams, diserang di linimasa setelah ayahnya meninggal karena bunuh diri; Narablog, Anita Sarkeesian, menjadi sasaran pelecehan seksual karena menyoal isu gender di industri game.

Di linimasa Indonesia, penyalahgunaan layanan juga riuh melintas. Salah satu contoh terdekat, misalnya dalam kasus penyebaran foto Jokowi - Nikita Mirzani yang dilakukan sejumlah akun, termasuk @ypaonganan.

Akun yang disebut terahir, dalam beberapa kicauannya--tak hanya dalam kasus foto Jokowi-Nikita--bisa saja digolongkan melakukan provokasi atau menyebar kebohongan.

Contoh lain, provokasi di sekitar perseturuan suporter sepakbola, dalam kasus Persib Bandung dan Persija Jakarta.

Adapun Twitter memang terlihat belum sanggup mengatasi (sepenuhnya) kasus-kasus macam di atas.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1JBWlx4
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat