Raditya Dika dan kejomloannya pemuncak daftar film Indonesia terlaris

Raditya Dika sukses meraih atensi penonton lewat film tentang jomlo
Raditya Dika sukses meraih atensi penonton lewat film tentang jomlo

Penonton film Indonesia, terutama penggemar Raditya Dika, tampaknya masih menggemari pola cerita film yang mengumbar status jomlo sebagai tema utama. Terbukti film Single produksi Soraya Intercine Films sukses jadi pemuncak tangga film Indonesia terlaris periode 15-21 Desember 2015.

Agaknya nama Radit juga menyimpan magnet tersendiri. Hampir tidak ada film yang dibintangi olehnya gagal menembus angka 100 ribu penonton. Hal tersebut yang membuat buku-bukunya selalu diadaptasi ke ranah film. Sejak zaman Kambing Jantan the Movie (2009) hingga Marmut Merah Jambu (2014).

Single bercerita tentang usaha keras Ebi (Radit) melepaskan status jomlonya. Menurut Badan Perfilman Indonesia (BPI) melalui akun Twitter @BadanPerfilman (24/12/2015), film tersebut telah ditonton 331.844 orang sejak pertama kali tayang pada 17 Desember.

Pemilik akun Twitter @RadityaDika dengan 12,6 juta followers itu tak sekadar membintangi, tapi sekaligus menyutradarai. Rangkap jabatan ini telah dilakoninya dalam film Marmut Merah Jambu. Bedanya Single merupakan kisah orisinal, bukan adaptasi dari buku miliknya.

Karena itu pendekatan yang dilakukan Radit juga berbeda. Dia lebih bebas menuangkan visi kreatifnya. Tidak ada pakem yang membatasinya. "Kalau dari buku itu kan sudah ada pakemnya. Enggak boleh jauh-jauh dari pakemnya. Tapi kalau Single bukan dari buku atau apapun. Ide ceritanya gue dan produser yang bikin," ungkapnya dilansir Liputan6.com (9/11).

Perihal keputusannya mengangkat tema jomlo sebagai ide besar cerita, pria yang memulai karier kepenulisannya melalui layanan blog ini mengaku bahwa banyaknya orang Indonesia berstatus single adalah alasan utama. Menangkap berbagai kegelisahan yang dirasakan para kaum jomlo adalah sesuatu yang menarik untuk dituangkan dalam film.

Menyusul kemudian adalah film Bulan Terbelah di Langit Amerika (Maxima Pictures) yang merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karya pasutri Rangga Almahendra dan Hanum Rais. Sekuel 99 Cahaya di Langit Eropa (2013) itu sukses menjual 264.727 lembar tiket selama empat hari sejak pertama tayang 17 Desember.

Ketika film ini akan tayang, produser Ody Mulya Hidayat (49) sangat optimistis. "Ini film paling mahal yang pernah dibuat Maxima. Saya optimistis Bulan Terbelah di Langit Amerika akan lebih sukses daripada sekuel pertamanya, 99 Cahaya di Langit Amerika," katanya kepada Bintang (11/12).

Sekadar pengingat, bagian pertama film 99 Cahaya di Langit Amerika (2013) sukses membukukan angka satu juta penonton. Ketika bagian keduanya dirilis setahun kemudian, angka tersebut menurun jadi 587.042 penonton.

Kesuksesan Single dan Bulan Terbelah di Langit Amerika membuat pemuncak periode sebelumnya, Villa 603, harus puas turun ke posisi ketiga dengan tambahan 19.181 penonton.

Berikut tangga film Indonesia terlaris berdasarkan jumlah tiket yang terjual di jaringan bioskop Cinema 21, CGV Blitz, dan Cinemaxx Theater selama periode 15-21 Desember 2015 menurut data yang dirilis BPI.

Daftar ini disusun berdasarkan jumlah penjualan tiket pekan ini dengan selisih dari penjualan total pekan sebelumnya.

1. Single 331.844 (rilis 17 Desember)

2. Bulan Terbelah di Langit Amerika 264.727 (rilis 17 Desember)

3. Villa 603 19.181 (total 116.059 tiket - rilis 3 Desember)

4. Harim di Tanah Haram 13.079 (37.048 - rilis 10 Desember)

5. Penghuni Lain 12.114 (35.427 - rilis 10 Desember)

6. Skakmat 9.657 (66.645 - rilis 26 November)



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1JBslkQ
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat