Paus Fransiskus serukan kesahajaan dan akhlak mulia

Paus Fransiskus di Vatikan, 19 Desember 2015
Paus Fransiskus di Vatikan, 19 Desember 2015

Dari Basilika Santo Petrus, Vatikan, Italia, Paus Fransiskus menggemakan lagi nilai tertinggi keagamaan yang semestinya melekat pada mereka yang beriman: hidup sederhana dan berakhlak mulia.

"Di tengah masyarakat yang acap kali gila konsumerisme dan hedonisme, kekayaan dan (hidup) bermewah-mewahan, (mengutamakan) penampilan dan narsisisme, (Yesus Kristus) menyeru kita untuk (berlaku) sederhana, seimbang, konsisten," ujarnya dalam ceramah saat misa Natal di hadapan 10.000 penganut Katolik di Basilika.

Sambungnya, "rasa yang kuat akan keadilan" harus mengemuka ketika menghadapi dunia yang "terlalu sering kehilangan belas kasih terhadap para pendosa dan (bersikap) toleran terhadap dosa."

Dengan suara serak, yang berhulu dari selesma ringan sejak awal pekan, Paus berdarah Argentina itu mengajak umatnya untuk menjaga "kesalihan, penuh empati, welas asih" meski didera budaya kiwari yang melanggengkan sikap abai.

Natal, ujarnya, dapat menjadi momen "untuk sekali lagi menemukan siapa diri kita."

Demi menyangga retorikanya, Paus Fransiskus menyampaikan kisah kelahiran Yesus Kristus (Isa al-Masih) yang dilingkungi kondisi serba kekurangan.

"Ia (Yesus) terlahir rudin; tidak ada ruang bersisa baginya dan keluarga di losmen itu. Istal adalah tempat bernaungnya...Dan dari kondisi papa itu, cahaya Tuhan memancar darinya," ujar sang Paus.

Berhikmat pada riwayat itu, Fransiskus mengatakan bahwa "pembebasan" dan "penebusan" menghampiri laki-laki dan perempuan yang menggenggam "kesahajaan".

Namun, ceramah itu tidak menyinggung problem yang mendesak Eropa--bahkan dunia--belakangan hari, yakni mengenai krisis pengungsi yang agaknya takberujung.

Sebelum kebaktian dimulai, para jemaat Basilika Santo Petrus melantunkan Kalenda, tembang tradisional berbahasa Latin yang merawikan pelbagai peristiwa menjelang kelahiran Yesus. Setelah senandung berakhir, Paus Fransiskus memperlihatkan patung kecil yang mewakili figur bayi Kristus. Patung itu terletak di depan pusara altar utama di atas pusara Santo Petrus.

Di hadapan patung, ia merapal doa, yang disusul pemberian bunga oleh sekelompok anak dari pelbagai negara. Tiap anak mewakili satu negara--seperti Kenya, Kuba, dan Amerika Serikat--yang pernah dikunjungi Fransiskus pada 2015.

Tidak seperti biasa, misa malam itu mendapat pengawalan lebih ketat. Selain keberadaan pasukan patroli, semua pengunjung wajib melalui detektor logam.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1OO9TXV
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat