Orang Indonesia lebih banyak yang sakit daripada yang sehat

Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek mengikuti rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di gedung Nusantara, kompleks gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, Senin, 1 Juni 2015. Rapat tersebut membahas laporan penyusunan roadmap menuju alokasi anggaran kesehatan 5 persen dari APBN, pembahasan mengenai pembiayaan penyakit langka yang membutuhkan biaya besar serta pelibatan rumah sakit swasta di dalam program JKN.
Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek mengikuti rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI di gedung Nusantara, kompleks gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta, Senin, 1 Juni 2015. Rapat tersebut membahas laporan penyusunan roadmap menuju alokasi anggaran kesehatan 5 persen dari APBN, pembahasan mengenai pembiayaan penyakit langka yang membutuhkan biaya besar serta pelibatan rumah sakit swasta di dalam program JKN.

Tidak ada orang yang ingin menderita sakit selama masih bisa sehat. Namun kenyataan membuktikan bahwa jumlah orang Indonesia yang sakit lebih banyak daripada yang sehat.

Hal itu disampaikan oleh Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek dalam Seminar Kupas Tuntas Dua Tahun Pelaksanaan JKN di Jakarta, Slasa (29/12/2015).

Seperti dilansir KOMPAS.com, Menkes menyatakan sebanyak 33 persen pengeluaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan untuk membiayai rawat inap orang yang sakit di rumah sakit. Menurut Nila, data ini mengungkapkan masih tingginya beban biaya untuk mengobati orang yang sakit.

Hal tersebut, menurut Menkes, membuktikan bahwa masyarakat Indonesia lebih banyak yang sakit daripada yang sehat.

Lebih lanjut Menkes mengungkapkan bahwa tingginya beban biaya yang ditanggung BPJS Kesehatan lebih banyak untuk kasus penyakit tidak menular seperti penyakit, gagal ginjal dan kanker.

"Penyakit jantung itu nomor satu, tinggi sekali. Ada juga gagal ginjal, angkanya kurang lebih 1,9 juta jiwa, yang melakukan cuci darah menyerap biaya Rp 2 triliun," ungkap Menkes seperti dikutip dari Tribun Lampung.

"Coba pikirkan satu bulan orang bayar iuran maksimal Rp59 ribu per bulan untuk kelas satu. Tapi orang sakitnya sampai operasi jantung, kita harus keluarkan biaya sampai Rp200 juta. Pasien bayarnya sewaktu dia sakit, padahal kan ini jaminan sosial yang menerapkan prinsip gotong royong," ujar Menkes seperti diwartakan Okezone.com.

Berdasarkan data BPJS Kesehatan tahun 2014, klaim ke BPJS Kesehatan untuk 4,8 juta kasus penyakit jantung mencapai Rp8,189 triliun. Data tahun 2015 hingga triwulan III terdapat 3,9 juta kasus dengan total klaim Rp5,462 triliun.

Sementara itu, untuk gagal ginjal ada 1,4 juta kasus yang menyerap dana BPJS Kesehatan sebesar Rp2,2 triliun selama tahun 2014.

Namun, menurut Nila, data dari Perhimpunan Nefrologi Indonesia terdapat sekitar 1,9 juta kasus gagal ginjal pada 2014. Adapun untuk tahun 2015 (data hingga Triwulan III), terdapat 1,2 juta kasus gagal ginjal dengan pembiayaan Rp1,6 triliun.

Kemudian untuk penyakit kanker, pembiayaan oleh BPJS tahun 2014 mencapai Rp2 triliun (894 ribu kasus), dan tahun 2015, mencapai Rp1,3 triliun (724 ribu kasus).

Penyakit kronis lainnya dengan pembiayaan tinggi oleh BPJS adalah stroke, thalasemia, sirosis hepatitis, leukemia, dan hemofilia. Total biaya kesehatan yang dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk membiayai delapan penyakit kronis tersebut mencapai Rp14,318 triliun di tahun 2014.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1YSfkKw
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat