Netizen menyoal aksi penolakan FPI terhadap Dedi Mulyadi

Anggota FPI saat aksi menolak majalah Playboy Indonesia (12 April 2006).
Anggota FPI saat aksi menolak majalah Playboy Indonesia (12 April 2006).

Massa yang mengusung nama Front Umat Muslim Jakarta menggelar razia di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Senin malam (28/12/2015).

Mereka menghentikan mobil-mobil yang masuk ke TIM, demi mencari Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. Aksi tersebut juga mengakibatkan kemacetan lalu lintas di sekitar lokasi.

Sejumlah media dan netizen menyebut Front Pembela Islam (FPI) sebagai penggerak aksi.

JPNN.com mengutip pernyataan dari Ketua FPI DKI Jakarta, Abdul Majid. "Ini masyarakat muslim dari seluruh Jakarta. Cikini, Kalipasir, Kwitang dan sekitarnya menolak si raja syirik Dedi Mulyadi menginjak tanah Jakarta," kata dia.

Malam itu, mestinya, Dedi menerima FTI Award dari Federasi Teater Indonesia, di TIM. Menyusul aksi razia itu, Dedi tak jadi menghadiri malam penganugerahan.

Mengutip Tempo.co, Dedi mendapat anugerah "Macenas FTI 2015", diberikan kepada elemen masyarakat yang tak bekerja di bidang seni, tapi memberi sumbangan signifikan pada perkembangan kesenian.

Dedi dinilai berkontribusi di bidang kesenian, misalnya lewat gelaran Festival Budaya Dunia di Purwakata. Tokoh berusia 44 itu juga getol mempromosikan budaya Sunda.

Di linimasa Twitter, razia FPI ini menjadi sorotan tweeps. Sejumlah akun berpengaruh turut melempar komentar dan mempertanyakan kewenangan FPI menggelar razia. Semisal yang disampaikan sutradara, Joko Anwar.

Komentar juga datang dari @Ulil. Lebih kurang, @ulil menyebut aksi ini bisa menjadi sinyal buruk bagi masyarakat luas. "Kalau bupati seperti Dedi Mulyadi saja bisa dikalahkan oleh Polisi demi FPI, apalagi kalian yang warga negara biasa," tulis akun yang dipercaya punya Ulil Abshar Abdalla, pendiri Jaringan Islam Liberal (JIL).

Adapun @Danrem, melempar pertanyaan kepada akun @DivHumasPolri. "Apa hak FPI untuk sweeping dan kenapa polisi di lapangan beralasan 'mereka hanya periksa-periksa'," bunyi kicauan akun yang dikenal milik Daniel Remberth, mantan Direktur Eksekutif The Jakarta Post.

Menyusul peristiwa ini, kata kunci "Dedi Mulyadi" turut menanjak di tren Twitter Indonesia, Selasa (29/12). Tren itu boleh saja dilihat sebagai bentuk dukungan netizen kepada Dedi.

Sejak November kian memanas

Pertikaian FPI dan Dedi memanas, paling tidak sejak akhir November silam. Saat itu, tokoh FPI, Rizieq Syihab memplesetkan salam "sampurasun" menjadi "campur racun." Plesetan itu dinilai sebagai pelecehan terhadap budaya Sunda, dan menuai kecaman.

Dedi menjadi salah satu tokoh yang meminta Rizieq, agar menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Sunda. Dedi berargumen, "sampurasun" memiliki makna baik seputar ajakan berbuat kemulian dalam hidup.

Alih-alih meminta maaf, Rizieq balik menuding Dedi berusaha menghidupkan ajaran Sunda Wiwitan. Rizieq menuduh Dedi menggantikan salam syariat Islam "assalaamu 'alaikum" dengan salam adat Sunda "sampurasun".

Kasus ini juga memicu rusuh di Purwakarta, saat pelantikan pengurus FPI setempat (19 Desember 2015). Acara pelantikan yang turut dihadiri Rizieq itu mendapat penolakan dari kelompok masyarakat Purwakarta. Hingga berujung bentrok.

Sebagai catatan, pada 28 Desember 2015, penolakan terhadap Dedi tak hanya terjadi di Jakarta. FPI juga menggelar aksi serupa di Karawang.

Dilaporkan SindoNews, dalam aksinya, FPI menurunkan anggotanya di sejumlah titik masuk Karawang, misalnya di pintu Tol Karawang Timur dan Karawang Barat.

Semula, Dedi akan menghadiri acara sunatan massal dan pengobatan gratis di Karawang. Acara itu akhirnya berlangsung, tanpa kehadiran tokoh yang tengah menjalani periode keduanya memimpin Purwakarta itu.

Informasi lain, Senin (28/12), Dedi juga mengirim kicauan duka atas berpulangnya tokoh FPI, Salim Alatas (Habib Selon). Kicauan Dedi juga terlihat di-retweet akun @DPP_FPI--dikenal sebagai kanal milik Dewan Pimpinan Pusat FPI.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1PtQ1w2
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat