Natal putih di Beijing akibat kabut asap tebal

Seorang pria Beijing mengenakan masker melintasi sebuah patung pemimpin Tiongkok Mao Zedong di sebuah jalanan yang diselimuti kabut asap pada 22 Desember 2015 di Beijing, Tiongkok.
Seorang pria Beijing mengenakan masker melintasi sebuah patung pemimpin Tiongkok Mao Zedong di sebuah jalanan yang diselimuti kabut asap pada 22 Desember 2015 di Beijing, Tiongkok.

Natal seharusnya merupakan momen yang membahagiakan. Namun hal itu tidak terjadi di Beijing menyusul semakin tebalnya kabut asap yang menyelimuti ibukota Tiongkok itu pada 25 Desember 2015 yang lalu.

Merdeka.com mewartakan Beijing mengalami salah satu bencana polusi paling parah tahun ini. Berdasarkan pemantauan Kedutaan Amerika di Beijing, kandungan partikel kasar (PM2,5) di udara Beijing mencapai 620 mikrogram per meter kubik pada tanggal 25 Desember pagi.

Kadar polusi itu baru menurun saing hari saat kandungan PM2,5 di udara menurun sampai 500 mikrogram. Namun tetap saja polusi itu sangat beracun dan berbahaya bagi paru-paru.

Polusi tersebut membuat pagi hari di Beijing terasa seperti menjelang malam, bahkan otoritas penerbangan Beijing akhirnya membatalkan 227 penerbangan akibat kabut asap ini.

"Jika kondisi ini terjadi beberapa hari dalam setahun, saya mungkin tahah. Tetapi kondisi saat ini makin parah tiap hari. Apakah hal ini sudah normal, hingga dianggap biasa?" ungkap seorang warga yang marah melalui situs Weibo, seperti dilansir Metrotvnews.com.

Pada sehari sebelumnya, seperti dipaparkan oleh IndoPos, pemerintah memasukkan sepuluh kota dalam status bahaya asap. Kota-kota itu adalah Tianjin, Puyang, Xinxiang, Dezhou, Handan, Xintai, Langfang, Hengshui, Xinji, dan Anyang. Sepuluh kota tersebut masuk dalam daftar 30 kota yang memiliki kadar polusi terparah, termasuk Beijing. Status bahaya asap di Beijing baru dicabut pada Selasa tengah malam (22/12).

Di Provinsi Shandong, sejak Rabu (23/12), pemerintah mengumumkan peringatan bahaya polusi. Itu adalah kali pertama seluruh area provinsi mengumumkan tanda bahaya polusi.

Di Kota Xinxiang, ukuran partikel polusi lebih kecil dari 2,5 mikrometer, yakni seratus kali lebih kecil jika dibandingkan dengan rambut manusia. Ukuran tersebut termasuk mematikan. Sebab, partikel polusi itu bisa masuk ke paru-paru dan meningkatkan potensi kanker paru-paru.

Beritagar.id pada pertengahan Desember mewartakan sebuah perusahaan Kanada yang menjual oksigen dalam botol menangguk untung akibat permintaan yang meroket dari warga Beijing yang kotanya diselimuti polusi udara yang amat parah.

Warga Beijing harus membayar USD20 (sekitar Rp280.000) untuk 7,7 liter udara segar. Harga ini 50 kali lebih mahal daripada sebotol air mineral di Tiongkok.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1PpwA7t
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat