Merawat keberagaman

Selamat Natal 2015
Selamat Natal 2015

Umat kristiani tidak hidup sendiri sebagai komunitas tertutup di dunia ini. Itulah salah satu pesan Natal yang disampaikan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

"Hidup Bersama sebagai Keluarga Allah" dipilih PGI dan KWI dalam mensyukuri kehadiran Yesus Sang Juruselamat. Menjadikan bumi pertiwi sebagai rumah bersama untuk menjalani hidup. Kehidupan yang tak hanya menyangkut spiritualitas, agama dan keberlangsungan umat.

Tapi juga kehidupan sosial manusia lengkap dengan berbagai problematikanya.

Sebagai bagian dari keluarga Indonesia, umat kristiani juga mesti ikut ambil bagian dalam menyembuhkan penyakit sosial terparah yang tengah menjangkiti Indonesia, yaitu darurat akal sehat. Tak terpeliharanya akal sehat, menjadikan berbagai persoalan sederhana menjadi hal yang sangat serius.

Pembakaran hutan yang selalu terjadi setiap tahun adalah contoh konkretnya. Berulang kali disinyalir, kebakaran hutan adalah kesengajaan untuk menghemat biaya land clearing. Keserakahan telah mematikan akal sehat sekelompok orang yang ingin memperoleh keuntungan besar.

Hutan yang telah memberikan kehidupan, dibakar. Korbannya tak hanya lingkungan, tapi juga masyarakat luas.

Darurat akal sehat juga terjadi di kehidupan politik. Pejabat tinggi negara belum selesai berdebat soal etika, soal kepantasan, moralitas, dan soal budi pekerti. Nilai universal tentang sosok pejabat, punggawa negara, sebagai panutan tengah dikaburkan. Melanggar etika bukan sebuah aib bagi pejabat negara.

Mengajarkan nilai spiritualitas agar masyarakat tidak mengikuti arus darurat akal sehat, juga menjadi salah satu bagian tanggung jawab umat kristiani, sebagai anggota keluarga besar Indonesia. Etika akan selalu dijunjung tinggi, oleh sebuah bangsa yang memiliki nilai keluhuran.

Sebagai bagian dalam bangsa yang majemuk, di seluruh penjuru nusantara, umat kristiani hidup berdampingan dengan komunitas-komunitas lain. Komunitas yang sangat beragam, baik adat, suku maupun agamanya.

Ada perbedaan cara menjalani kehidupan, ada pula perbedaan sikap dan pandangan dalam masalah-masalah sosial yang terjadi. Ditambah darurat akal sehat, perbedaan itu seringkali menimbulkan gesekan-gesekan bahkan konflik antar kelompok, golongan, ras/suku dan agama.

Ringkasnya, lebih banyak disebabkan darurat akal sehat, pada hari-hari kemarin telah terjadi disharmoni dalam hubungan antar umat dan antar warga. Insiden masjid terbakar, terjadi di Papua. Begitu sebaliknya, gereja dibakar massa di Aceh. Celakanya, pelaku perusakan, penyerangan ataupun pembakaran, mengatasnamakan agama. Padahal agama tak mengajarkan itu semua.

Peristiwa itu sudah lebih dari cukup memberi pelajaran bagi bangsa Indonesia. Tak ada yang diuntungkan, tak ada yang bangga, tak ada pula pemenang, dalam setiap kali peristiwa seperti itu. Yang tersisa hanya kesedihan dan kesengsaraan.

Padahal sesungguhnya, kesengsaraan itulah yang menjadi musuh seluruh bangsa termasuk umat kristiani. Sebuah kewajiban bagi semua anggota keluarga untuk membantu siapapun yang sengsara. Mengulurkan tangan, merangkulnya, berbagi, untuk kembali mendapatkan kehidupan yang wajar. Kehidupan yang harmonis dalam masyarakat.

Memang tak mudah mewujudkan harmoni itu. Karena perilaku umat bukan hanya berjalan dengan seruan. Mereka butuh contoh nyata, kehidupan saling menghargai, saling menghormati yang bukan basa-basi.

Karenanya tak berlebihan bila mengingat kembali apa yang telah dilakukan oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Johannes Pujasumarta, pada Idul Fitri 1436 Hijriah. Ia melakukan safari Idul Fitri dengan mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Semarang, saat umat Islam melaksanakan solat ied (17/7/2015).

Ia datang untuk bersilaturahmi dengan para sahabatnya yang kiyai, ustaz, dan ulama. Ia juga mengunjungi sejumlah pimpinan pondok pesantren yang tersebar di berbagai kota di Jawa Tengah.

"Kami sungguh-sungguh ingin mewujudkan rahmatan lil alamin atau menjadi rahmat serta berkat bagi seluruh alam semesta," ujar MGR Pujasumarta, memberi alasan safari Idul Fitri yang dilakukannya.

Bahruddin, pendiri Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT), salah seorang sahabat Pujasumarta, menuturkan:

"Beliau selalu menyempatkan diri untuk bersilaturahim dan sebaliknya kami, juga KH Mahfudz Ridwan, berkunjung saat Natal."

Seruan Natal PGI dan KWI, diakhiri dengan ajakan bagi kaum kristiani untuk menanam, menyiram dan memelihara kehidupan semua makhluk ciptaan di bumi pertiwi ini. Dan Uskup Mgr. Johannes Pujasumarta sudah mengawalinya.

Selamat merayakan Natal, selamat merawat keberagaman.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1IsTSK8
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat