Menyibak sistem ketahanan pangan Kampung Naga

Pangan merupakan kebutuhan dasar utama setiap individu yang mesti dipenuhi setiap saat. Begitu juga para warga Kampung Naga yang sumber kehidupannya bergantung pada alam di sekitar mereka.

Kampung Naga secara geografis berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Lokasi Kampung Naga bahkan tak jauh dari jalan raya penghubung Kabupaten Garut dengan Kabupaten Tasikmalaya.

Akses menuju Kampung Naga juga terbilang mudah, dari area parkir ke permukiman hanya berjarak sekitar satu setengah kilometer. Kampung Naga berada di lembah yang hijau, sejuk, dan subur yang sisi selatannya dikelilingi sawah-sawah penduduk, sedangkan sisi utara dan timur dibatasi Sungai Ciwulan yang sumber airnya berasal dari Gunung Cikuray yang berada di wilayah Kabupaten Garut.

Dari Kota Tasikmalaya ke Kampung Naga berjarak sekitar 30 kilometer atau sekitar 45 menit perjalanan. Sedangkan dari Kabupaten Garut berjarak sekitar 26 kilometer yang bisa ditempuh hanya 30 menit perjalanan. Semua penduduk Kampung Naga beragama Islam, namun juga memegang teguh adat, budaya dan kepercayaan leluhur yang menghargai alam, makhluk, dan hal-hal yang ditabukan.

Sosial kemasyarakatan warga Kampung Naga sangat erat satu sama lain, mereka bahkan masih memelihara budaya gotong royong, hormat menghormati, dan mengutamakan kepentingan bersama ketimbang kepentingan pribadi.

Sedangkan pola kepemimpinan di Kampung Naga terdapat dua pemimpin yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi berbeda, yakni pemimpin dari unsur pemerintahan desa dan pemimpin adat yang dikenal dengan sebutan Kuncen (Jabatan Kuncen kini dipegang Ade Suherlin).

Peran pemimpin desa dengan pemimpin adat saling bersinergi satu sama lain untuk tujuan keharmonisan sanaga (sebutan bagi warga Kampung Naga). Seorang Kuncen yang berkuasa dalam sistem adat, jika berhubungan dengan sistem pemerintahan desa pasti akan menaatinya.

Kuncen taat dan patuh pada imbauan Ketua RT atau Ketua RW setempat. Begitu juga sebaliknya, Ketua RT atau Ketua RW mesti taat pada Kuncen jika berurusan dengan aturan adat.

Gapura selamat datang di area parkir Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat
Gapura selamat datang di area parkir Kampung Naga, Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat

Leuit sebagai penopang ketahanan pangan

Pencaharian warga Kampung Naga mayoritas bertani di sawah dan ladang, mereka menanam padi, palawija, beternak ikan di kolam atau menangkap ikan di sungai. Mereka juga memanfaatkan sumber daya alam untuk kerajinan dari bahan bambu, kayu dan rotan.

Kebutuhan pokok masing-masing keluarga dipenuhi oleh para laki-laki sebagai kepala keluarga. Masyarakat Kampung Naga masih punya sawah, kebun maupun kolam sendiri. Keyakinan mereka terhadap alam dan penciptanya tampak jelas dalam sistem pertanian yang memakai metode tanam "JanJul" atau Januari -Juli dalam menanam dan memanen.

Sanaga pun bertani di ladang dan sawah tanpa menggunakan pupuk kimia, mereka hanya mengandalkan pupuk organik dan mengikuti pola alam. Bahkan untuk membasmi hama juga tak pernah memakai obat-obatan kimia.

"Pada dua bulan ini (Januari-Juli) secara alamiah ada serangga pemakan hama wereng padi di sawah-sawah punya sanaga, sehingga tak perlu takut padi dirusak hama," jelas Juru Kunci Kampung Naga, Ade Suherlin.

Padi hasil panen juga tak pernah mereka olah ke penggilingan. Warga Kampung Naga mengolahnya dengan cara tradisional. Ibu-ibu sanaga mengolah padi menjadi beras dengan cara ditumbuk di Saung Lisung. Bangunan terbuka ini dibuat terpisah dari permukiman, seperti di pinggir atau di atas balong (kolam) yang ditanami ikan.

"Ini (Saung Lisung) sengaja dibuat di pinggir atau di atas balong supaya limbah dari ngalisung (penumbukan padi) berupa huut (dedak) dan beunyeur (potongan-potongan kecil beras) langsung masuk ke balong dan jadi makanan ikan," ungkap Emak Uken (57) yang sedang menumbuk padi dengan putri sulungnya, Rohayati (36), kepada Beritagar.id Minggu (13/12) lalu.

Limbah dari Saung Lisung, menurut Mak Uken, tidak mengotori permukiman warga, baik debu atau sampahnya. Bahkan kandang ternak milik warga juga ditempatkan jauh terpisah dari permukiman.

"Kandang juga dibangun di atas balong (kolam) supaya limbah berupa kotoran hewannya bisa langsung terbuang, jadi lingkungan tempat tinggal tetap bersih dan sehat," jelasnya sambil tersipu.

Emak Uken (57) dan putri sulungnya Rohayati (36) (kanan-kiri) sedang menumbuk padi di Saung Lisung yang sengaja dibangun di atas sebuah kolam di luar permukiman warga Kampung Naga
Emak Uken (57) dan putri sulungnya Rohayati (36) (kanan-kiri) sedang menumbuk padi di Saung Lisung yang sengaja dibangun di atas sebuah kolam di luar permukiman warga Kampung Naga

Dari hasil panen padi bulan Juli, sebagian disimpan sanaga dalam leuit (lumbung) kampung yang berada di bagian belakang permukiman warga Kampung Naga. Menyimpan padi di leuit ini merupakan sistem ketahanan pangan yang mampu menopang petani jika mengalami kegagalan panen.

Adanya sistem leuit juga mengatur setiap warga untuk menyetorkan 30 persen hasil panen, sisanya atau 70 persen untuk konsumsi rumah tangga masing-masing.

"Kalau hasil panen Sanaga tidak mencukupi kebutuhan hidup, kami sepakat untuk mengambil padi simpanan dari leuit. Semua padi yang ditanam Sanaga ini jenis terbaik, bahkan sebelum disimpan di leuit juga melalui proses penjemuran sampai kering sekali, supaya tetap bisa dikonsumsi meskipun disimpan lama," paparnya.

Setiap panen, sambung Ade, masing-masing kepala keluarga mampu menghasilkan rata-rata lima kuintal dari satu petak sawah. Setiap petak rata-rata 10 bata atau sekitar 140 meter persegi. "Panennya setiap enam bulan sekali. Hasilnya sudah lebih dari cukup untuk makan (konsumsi) sehari-hari juga persediaan menjelang panen berikutnya," bebernya.

Ditanya apa varietas padi yang ditanam warga Kampung Naga, Ade menjelaskan, Sanaga hanya mengandalkan padi lokal lantaran mereka yakin padi tersebut selalu membawa banyak berkah.

"Di sini tidak pernah kekurangan padi atau beras setiap musim tanam. Kami juga tidak pernah mengalami gagal panen karena hama atau kekurangan air, di sini air melimpah, tidak pernah kering meskipun kemarau panjang," papar Ade.

Dalam setiap siklus masa tanam padi, tambah Ade, menyimpan padi di leuit kampung dan leuit di rumah masing-masing bukan sekadar untuk menyimpan bahan makanan pokok. "Ini kami jadikan sebagai wujud rasa hormat pada alam dan menyimpan serta memelihara amanat dari leluhur kami," pungkasnya.

Menanti panen dengan membuat kerajinan

Abah Ma'un (81) terlihat serius membentuk bongkahan kayu mahoni berdiameter 65 centimeter yang akan dibuat dulang (alat penumbuk) pesanan warga luar Kampung Naga
Abah Ma'un (81) terlihat serius membentuk bongkahan kayu mahoni berdiameter 65 centimeter yang akan dibuat dulang (alat penumbuk) pesanan warga luar Kampung Naga

Selain bertani, warga juga terampil membuat kerajinan-kerajinan khas Kampung Naga yang bisa dijual kepada para pengunjung. Mereka memanfaatkan lidi, kulit kayu, kulit binatang, bambu, dan kayu aren untuk bahan dasarnya.

Mang Usup atau lebih dikenal dengan sebutan Abah Karinding (64), sudah belasan tahun membuat alat musik karinding dan beluk. Tak hanya itu, ayah tiga anak ini juga kerap kebanjiran orderan koja (tas keranjang) berbahan tali kulit.

"Sekarang saya lagi dikejar orderan koja dari tali kulit ini. Koja dari bahan ini lebih kuat ketimbang dari bahan kulit kayu. Bahannya juga lumayan susah, tali kulit begini teh, saya kerjain sendiri, satu koja bisa dua hari," paparnya.

Mang Usup menggarap kerajinan-kerajinan tersebut di sela musim tanam. "Nunggu panen, daripada ukur ngahuleng (cuma bengong) mending diisi membuat ini (kerajinan). Lumayan, satu koja bisa terjual Rp300 ribu paling mahal," ujarnya sambil tersenyum bangga.

Tak hanya Mang Usup, Abah Ma'un (81) juga kerap mengisi waktu sela menanti panen dengan membuat kerajinan dari bahan bambu, batok kelapa, juga kayu. Dia bahkan kerap mendapat order pembuatan dulang (alat penumbuk) dari bahan kayu keras.

Saat Beritagar.id menyambanginya, Abah Ma'un terlihat serius membentuk sebuah bongkahan kayu bulat berdiameter sekitar 65 centimeter untuk dijadikan dulang.

"Ieu tunggul (ini tunggul) mahoni, ada pesanan bikin dulang dari orang Bandung. Baru sehari membentuk bulatan, bikin dulang besar seperti ini biasanya bisa sampai seminggu. Abah jual Rp800 ribu," terang Abah Ma'un sambil menyeka keringat di keningnya.

Beragam hasil kerajinan tangan warga, berupa caping (topi berbentuk kerucut dari anyaman bambu), koja dari bahan kulit kayu atau akar, keranjang bambu, piring dari lidi, hingga seruling bambu juga sandal. Hasil kerajinan itu tergantung rapi di depan rumah masing-masing, sehingga para pengunjung dapat melihat, memilih, dan membelinya untuk oleh-oleh.

Seperti yang dilakukan Nisa Cahya Handayani (15), Siswi SMKN 1 Kota Tasikmalaya ini asik memilih gelang dan pernak-pernik berbahan kayu, batok kelapa, dan bambu berbentuk gantungan kunci juga gelang.

"Gelang dari kayu bagus-bagus, unik. Harganya juga murah, cuma Rp5 ribu. Topi dari bambu juga bagus-bagus, lucu," ungkap Nisa yang mengaku baru kali pertama berkunjung ke Kampung Naga.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1JzCOx3
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat