Menjadi lebih relevan

Bagaimana agar tetap relevan pada masa mendatang?
Bagaimana agar tetap relevan pada masa mendatang?

Pada penghujung 2015 penggemar film, khususnya genre sci-fi (science-fiction), dihebohkan dengan release fim terbaru Star Wars: The Force Awakens (SW: TFA). Waralaba film yang sekarang dipegang oleh Disney dan dieksekusi oleh sutradara kondang J.J. Abrams tersebut mampu menciptakan gelombang baru demam Star Wars.

Kesuksesan sekuel terbaru Star Wars ini tentunya tak lepas dari keberhasilan dalam mengakuisisi generasi penonton muda menjadi "Star Wars Fanboys" baru --sebuah hal yang kurang berhasil dilakukan oleh trilogi prekuel sebelumnya.

Apa kuncinya?

Tentu saja ini dipengaruhi oleh kombinasi kepiawaian Abrams dan pengalaman Disney untuk mengubah SW: TFA menjadi sci-fi action penuh laga yang marketable kepada para penonton muda dan baru--yang bahkan tak pernah kena terpa prekuel-prekuel Star Wars sebelumnya.

Abrams tak sibuk dengan plot dan skenario gotak-gatik-gatuk ala alien-soap-opera. Ia lebih berkonsentrasi membuatnya jadi tontonan yang menyenangkan nan seru. Meski begitu, dia tidak lupa memberikan bumbu sedikit benang merah masa lalu untuk memuaskan para "fanboys lama".

Abrams berhasil meramu dan membuat SW: TFA menjadi makanan bagi generasi sekarang yang sudah khatam dengan sci-fi penuh laga seperti Avengers, Transformers, dan sejenisnya. Star Wars berhasil melakukan apa yang James Bond kurang berhasil lakukan: Membuatnya menjadi relevan bagi generasi sekarang.

Kemampuan membuat relevansi kepada sebuah generasi baru tentu saja adalah cita-cita adiluhung siapapun, di industri apapun, tak hanya film tentu saja. Mengapa? Karena pada titik tertentu nantinya sebuah generasi akan habis sehingga tak lagi menjadi khalayak atau konsumen mereka.

Kita bisa melihat banyak merek atau produk komersial yang berusaha untuk merangkul khalayak atau konsumen yang lebih muda lagi daripada sebelumnya. Mereka sadar bahwa keberlangsungan mereknya terletak pada keberhasilan mereka merangkul generasi baru tersebut. Mulai dari kategori telekomunikasi, rokok, hingga FMCG, terlihat berlomba-lomba untuk "memudakan brandnya"

Apalagi generasi millenial saat ini memang dikenal sebagai generasi yang cukup paradoks: semakin cerdas dan kritis dalam mengonsumsi sesuatu, tapi di sisi lain justru mendorong mereka menjadi relatif semakin konsumtif terhadap segala sesuatu.

Tapi kemudian masalahnya, untuk membuat sebuah hal relevan dengan generasi baru, bukanlah perkara yang mudah.

Tak usah jauh-jauh dengan industri komersial, di "industri" politik dan publik pun sama saja. Contohnya adalah soal gerakan antikorupsi. Rasa-rasanya perlu sebuah kreativitas untuk membuat gerakan antikorupsi menjadi relevan terhadap generasi baru.

Tak cukup hanya dengan jargon-jargon ala-ala "Katakan Tidak Pada (hal?) Korupsi". Gerakan ini harus mulai melihat bagaimana anti-korupsi bisa menjadi cool-factor yang bisa dijadikan sebagai simbol-sosial para generasi baru. Tentu saja kalau tidak ingin gerakan antikorupsi tinggal menjadi kenangan

Begitu pula dengan platform-platform baru di ranah digital. Kita tentu pernah menjadi saksi sejarah bagaimana Friendster yang begitu fenomenal, sekarang hanya tinggal sejarah. Twitter yang begitu popular pun perlahan-lahan mulai terus berbenah mencoba mencari relevansi baru dengan generasi baru, karena tak ingin dilibas oleh platform lain seperti Path atau Instagram.

Bahkan dalam ranah yang lebih sensitif lagi, kita juga bisa melihat bagaimana sebuah agama juga harus tetap menciptakan relevansi-relevansi baru dengan generasi sekarang. Tentu saja tanpa meninggalkan nilai-nilai atau akidah-akidahnya. Tak heran kita melihat fenomena munculnya ustaz-ustaz muda dengan gaya baru, atau pendeta-pendeta muda dengan pendekatan baru yang "laku" di kalangan generasi sekarang.

Oleh karena itu, tantangan utama bagi kita semua adalah, bagaimana kita mengesampingkan ego "kaum tua" dan mulai mau mendengarkan "kaum muda" agar tetap bisa relevan.

Menyambut pergantian tahun;

Apakah yang kemarin dilakukan di 2015 masih relevan dilakukan di 2016?
Apakah cara-cara berpolitik di 2015 masih relevan dilakukan di 2016?
Apakah cara-cara syiar di 2015 masih relevan dilakukan di 2016?
Apakah cara-cara kita berkomunikasi di 2015 masih relevan untuk dilakukan lagi di 2016?
Apakah cara-cara sepik di 2015 masih relevan dilakukan di 2016?
Dan tentunya banyak pertanyaan lain.

Tentu saja kita tidak pernah tahu.

Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah tetap berpijak dengan masa lalu sambil bersiap beradaptasi dengan hal yang baru di masa depan.

Karena kalau tidak, bersiaplah kita akan tak lagi popular seperti James Bond, atau bahkan tinggal sejarah seperti Friendster dan tinggal menyisakan kenangan.

Bukankah begitu, mblo?
(Duh, maaf).



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1NYlcNe
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat