Lima band yang mengakhiri karier pada 2015

Motorhead bubar seiring meninggalnya Lemmy (tengah)
Motorhead bubar seiring meninggalnya Lemmy (tengah)

Sepanjang tahun 2015, ada begitu banyak band-band baru bermunculan. Mereka menghadirkan kesegaran lewat ragam corak musik yang dibawakannya. Di antara luapan kegembiraan dalam mengapresiasi kehadiran para pendatang baru tersebut, terselip kesedihan dan penyesalan dari para penyuka band yang memutuskan bubar.

Laiknya frasa "tak ada yang abadi di dunia ini," bubarnya sebuah band bukan kejadian aneh dalam industri musik. Karya yang laris terjual dan penggemar tersebar di mana-mana tidak menjamin keutuhan band bisa bertahan lama.

Keputusan bubar bisa muncul karena beragam alasan. Digital Music News pernah menulis sedikitnya sembilan alasan. Mulai dari yang paling klise semisal para personel sudah tidak satu visi, egoistis, uang, perselisihan antarpersonel, merasa kelelahan atau bosan, hingga karena narkoba.

Bahwa beberapa band yang telah memutuskan bubar nantinya ada yang berkumpul lagi, bahkan merilis album baru, itu lain soal. Tapi, tidak ada salahnya juga berharap demikian, mengingat cukup banyak contoh kasusnya. Disturbed adalah contoh teranyar band yang hadir lagi setelah tak berkegiatan selama empat tahun.

Melanjutkan tradisi yang telah kami lakukan sejak 2013 dan 2014, berikut beberapa nama band yang memutuskan mengakhiri karier bermusiknya sepanjang tahun 2015.

The Black Crowes

Kelompok rock blues ini terbentuk sejak 1989 di Georgia, Amerika Serikat. Bagi para penggemar setia, keputusan membubarkan diri tentu bukan hal yang mengagetkan lagi. Pasalnya, pelantun "Hard to Handle" ini telah tiga kali melakukannya.

Yang terbaru diucapkan oleh Rich Robinson (46), gitaris sekaligus salah satu pendiri The Black Crowes, pada Januari 2015 silam. Dalam pernyataan resminya dilansir Blabbermouth. Adik Chris Robinson (vokalis yang juga pendiri band) itu dengan berat hati mengatakan bahwa band mereka telah bubar.

Chris (49) saat diwawancarai Huffington Post sebulan kemudian membenarkan pernyataan adiknya tersebut. Rumor bahwa perpecahan The Black Crowes disebabkan hubungan mereka yang tidak harmonis juga diamininya. "Kami tidak pernah punya hubungan yang bagus."

The Black Crowes - Hard To Handle

Cobra Starship

Pada awal kemunculannya lewat album While the City Sleeps, We Rule the Streets (2006) yang menjagokan lagu "Send My Love to the Dancefloor, I'll See You In Hell (Hey Mister DJ)", band asal New York, AS, ini tampak menjanjikan.

Terlebih mereka bergabung dengan label rekaman Fueled By Ramen yang membawahi banyak band keren yang sedang populer saat itu, semisal Panic! At The Disco, Gym Class Heroes, Paramore, Fall Out Boy, Jimmy Eat World, dan Phantom Planet.

Awal keruntuhan Cobra Starship mulai terlihat saat Ryland Blackinton (gitar) dan Alex Suarez (bas) -dua personel asli band ini- memutuskan hengkang pada Oktober 2014 untuk menjalani karier sendiri.

"Setelah melewati tahun-tahun luar biasa, saya terpaksa membuat keputusan sulit, yaitu menutup buku tentang Cobra Starship. Terima kasih kepada anda semua yang pernah mendukung Cobra dengan cara apapun," tulis vokalis Gabe Saporta di laman situs resmi band (10/11/2015).

Cobra Starship: Send My Love To The Dancefloor... [OFFICIAL VIDEO]


Funeral for a Friend

Band post-hardcore asal Wales yang telah terbentuk selama 15 tahun dan menghasilkan tujuh album panjang serta delapan mini album. Memutuskan bubar tidak lama setelah menyelesaikan "Last Chance To Dance" yang merupakan tur terakhir mereka, September 2015.

Tidak ada alasan spesifik di balik pembubaran tersebut. "Ini sebuah perpisahan yang wajar. Kami telah melakukan semua hal yang harus kami lakukan, dan melebihi apa yang saya harapkan. Jadi, saya tidak kecewa karena band ini berjalan seperti seharusnya. " ujar sang vokalis Matthew Davies-Kreye dilansir Kerrang!.

Davies-Kreye melanjutkan bahwa Chapter And Verse (rilis 19 Januari 2015) adalah album penutup yang baik untuk mengakhiri petualangan mereka selama ini dalam bermusik bersama.

Funeral For A Friend - Into Oblivion [Reunion] (Video)

Pink Floyd

Faktor usia dan meninggalnya beberapa personel kunci adalah alasan utama mengapa band progresif/psikedelik rock ini memutuskan bubar. Itu dikatakan David Gilmour (69) dalam wawancara bersama Classic Rock Magazine (h/t Consequence of Sound), Agustus 2015.

Meninggalnya kibordis Richard Wright pada tahun 2008 adalah alasan mengapa Gilmour enggan meneruskan lagi perjalanan Pink Floyd yang terbentuk sejak 1965. "Saya tentu sangat setuju dengan orang-orang yang ingin mendengar dan melihat penampilan Pink Floyd lagi. Tapi, itu bukan tanggung jawab saya lagi," pungkas gitaris yang dikabarkan masih berseteru dengan Roger Waters (72) ini.

Album The Endless River (rilis 10/11/2014) bisa dipastikan jadi yang terakhir dari Pink Floyd. Itupun berasal dari materi lama yang belum pernah dirilis sebelumnya ketika Wright masih hidup. Ketika dirilis, tidak ada promo berupa konser atau tur yang diadakan band asal Inggris ini.

"Mustahil mengadakan penampilan langsung di atas panggung tanpa kehadiran Wright," tambah Gilmour yang kini melanjutkan petualangan musikalnya sebagai solis.

Pink Floyd - Comfortably Numb [HD]

Motorhead

Nasib band ini sudah dapat ditebak menyusul meninggalnya Lemmy Kilmister (vokalis/bassis) pada 29 Desember 2015 karena serangan kanker ganas. Motorhead ikut terkubur bersama Lemmy yang notabene adalah pendiri dan satu-satunya personel asli band sejak terbentuk di London, Inggris, 1975.

Itu diungkapkan Mikkey Dee (52), drummer yang bergabung sejak 1992 menggantikan Phil Taylor. "Motorhead tentu saja telah tamat riwatnya," kata Dee kepada Expressen (h/t Billboard) sesaat setelah menerima kabar meninggalnya kawan seperjuangannya selama lebih dari dua dekade itu.

MOTÖRHEAD ACE OF SPADES (Good Quality)



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1IDf0gS
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat