Gagal atasi kemacetan, Dirjen Perhubungan Darat mundur

Ribuan kendaraan terjebak antrean panjang saat menuju keluar pintu Tol Gadog, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jum'at (25/12). Polres Bogor memberlakukan sistem buka tutup satu arah untuk mengurai kemacetan di jalur Puncak, Bogor, akibat tingginya volume kendaraan di saat liburan panjang Natal dan Tahun Baru.
Ribuan kendaraan terjebak antrean panjang saat menuju keluar pintu Tol Gadog, Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jum'at (25/12). Polres Bogor memberlakukan sistem buka tutup satu arah untuk mengurai kemacetan di jalur Puncak, Bogor, akibat tingginya volume kendaraan di saat liburan panjang Natal dan Tahun Baru.

Kemacetan luar biasa libur natal dan tahun baru terjadi sejak Kamis (24/12/2015). Kemacetan kali ini lebih parah dibanding dengan macet pada arus mudik lebaran. Di tol Cikampek, dari Rawamangun, Jakarta Timur hingga Cikarang, Jawa Barat yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 45 menit hingga 1 jam, misalnya pada Kamis (24/12) harus ditempuh dalam waktu lebih dari 9 jam.

Karena alasan gagal mengantisipasi kemacetan itu, Sabtu (26/12/2015), Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Djoko Sasono mengundurkan diri.

"Sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap hal ini, saya menyatakan berhenti jadi Dirjen Perhubungan Darat," ujar Djoko di Kantor Kemenhub, Jakarta Pusat seperti dikutip Kompas.

Djoko mengaku, pengunduran dirinya ini bukan karena tekanan dari manapun. "Saya harus menyatakan bahwa ini kesalahan Dirjen Perhubungan Darat."

Menteri Perhubungan Ignatius Jonan mengaku baru mengetahui rencana pengunduran diri Djoko ini dari media. "Pak Menteri baru tahu dari media," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenhub Sugihardjo.

Menteri Jonan, kata dia, akan mengambil langkah-langkah setelah menerima surat pengunduran diri Djoko ini. Kemungkinan, kata dia, Menteri Jonan akan menunjuk pelaksana tugas Dirjen Perhubungan Darat.
Sugihardjo menegaskan apa yang disampaikan Djoko adalah berhenti dari jabatan, bukan mengundurkan diri.

"Kalau mengundurkan diri kan ada proses waktu ditolak atau disetujui. Kalau berhenti adalah pernyataan sepihak untuk menyatakan berhenti terhitung dari tanggal berapa," kata Sugihardjo.

Volume kendaraan sejak Kamis lalu memang meningkat. Menurut Direktur Utama PT Jasa Marga Adityawarman jumlah kendaraan yang keluar dari tol Jakarta-Cikampek pada liburan Natal mencapai 105 ribu kendaraan atau meningkat 38 persen dibanding keadaan normal. Dari jumlah itu, 18 persennya merupakan kendaraan golongan berat. "Truk dan bus cukup besar volumenya," katanya seperti dilansir CNN Indonesia.

Data dari PT Jasa Marga menunjukkan jumlah kendaraan yang lewat tol melonjak. Jumlah kendaraan yang tumpah dalam arus mudik Natal 2015 dan tahun baru 2016 dalam rentang 23 Desember 2015 hingga 3 Januari 2016 diprediksi mencapai 2,6 juta kendaraan. Jumlah ini meningkat 14,07 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2014 sebesar 2,3 juta kendaraan.

Pada arus mudik lebaran, jumlah kendaraan periode H-7 hingga H-1 mencapai 1,57 juta kendaraan atau meningkat 10,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 1,42 juta kendaraan.

Menurut Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian, penyebab kemacetan itu adalah karena terlalu banyak jumlah kendaraan yang masuk ke tol.

Kemacetan ini merembet pada Tol Dalam Kota arah ke Bekasi. Bahkan mengular hingga Slipi, Jakarta Barat. Kondisi serupa terjadi dari kawasan Polda Metro Jaya menuju Halim Perdanakusumah. Menurut Wasta, penyebab kemacetan panjang di Cikampek, dari Cawang sampai dengan Cikarang Utama terjadi karena buka tutup rest area di KM 19, KM 33, dan KM 39.

Selain itu, pertemuan arus lalu lintas dengan perlintasan kereta juga menciptakan kemacetan. Jumat (25/12) pagi, pintu keluar Tol Pejagan macet parah karena pertemuan dengan pelintasan kereta.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1Iw2Jek
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat