Ekonomi bergerak di tengah kemacetan jalanan

Ada senyum optimisme perbaikan ekonomi
Ada senyum optimisme perbaikan ekonomi

Luar biasa kemacetan lalu lintas yang terjadi saat libur panjang akhir pekan Desember 2015. Jalan tol Jakarta-Cikampek berjarak 73 kilometer, harus ditempuh dalam waktu 11 jam. Jakarta-Bandung yang normalnya bisa ditempuh dalam 3 jam, kali ini harus ditempuh dalam 14-15 jam.

Hari libur berhimpitan antara Maulid Nabi Muhammad SAW, 24 Desember, dan Natal pada hari berikutnya, memberi keleluasan warga untuk berlibur akhir tahun. Apa lagi pekan berikutnya ada libur tahun baru 2016.

Melimpahnya pelancong liburan kali ini seperti tak terantisipasi oleh parapihak yang bertanggungjawab terhadap lalu lintas jalan darat. Distribusi barang dengan kendaraan berat, bercampur kendaraan pribadi dan angkutan umum memenuhi ruas jalan tol. Standar pelayanan pembayaran tol yang semestinya 9 detik, praktiknya masih 14 detik.

Koordinasi antara petugas Dinas Perhubungan dengan aparat kepolisian, seperti terjadi secara dadakan. Tak terlihat perencanaan contingency ketika kemacetan parah terjadi. Bahkan Menteri Perhubungan, Ignatius Jonan, bilang tak ada solusi mengatasi kemacetan saat kejadian luar biasa seperti itu.

Kemacetan lalu lintas kali ini bisa dibilang lebih parah dibanding saat libur lebaran Juli lalu. Menurut perhitungan PT Jasa Marga, jumlah kendaraan periode H-7 hingga H-1 mencapai 1,57 juta. Jumlah ini adalah peningkatan 10,94 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 1,42 juta kendaraan.

Sedang libur Maulid-Natal dan akhir 2015 ini, dalam rentang 23 Desember 2015 hingga 3 Januari 2016 diprediksi mencapai 2,6 juta kendaraan. Jumlah ini meningkat 14,07 persen dibandingkan periode yang sama pada 2014, sebesar 2,3 juta kendaraan.

Bayaran termahal dari kemacetan libur akhir tahun 2015 ini adalah mundurnya Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Djoko Saksono. Dia menyatakan berhenti dari jabatannya, sebagai bentuk tanggung jawab, karena gagal mengatasi kemacetan parah pada 24 dan 25 Desember.

Kemacetan selalu menimbulkan kerugian. Namun kerugian dari inefisiensi pemakaian BBM, serta lainnya sampai saat ini belum diketahui hitungannya.

Yang pasti, di balik aneka masalah kemacetan akhir tahun tersebut ada hikmah positifnya. Ledakan pelancong liburan tersebut memberikan indikasi terjadinya pergerakan ekonomi masyarakat. Setidaknya para pelancong menyiapkan biaya liburan yang tidak kecil.

Bank Indonesia, memprediksikan kebutuhan uang tunai liburan akhir tahun ini mencapai Rp80,7 triliun. Kebutuhan ini meningkat dibanding tahun lalu yang Rp72,9 triliun. Sedangkan kebutuhan uang tunai dalam bulan normal tahun ini adalah Rp40 triliun.

Uang para pelancong tersebut, umumnya memang lari ke sektor konsumsi. Namun itu bukan hal yang buruk, setidaknya bisa menjadi tambahan darah perekonomian, yang sempat lesu beberapa saat sebelumnya.

Sektor konsumsi pun punya pengaruh yang tidak kecil terhadap angka pertumbuhan ekonomi nasional. Artinya libur akhir tahun ini pun bisa menjadi pendorong titik balik perekonomian nasional.

Sebagaimana diketahui, pada triwulan I-2015, pertumbuhan ekonomi tercatat 4,72 persen. Pada triwulan berikutnya melambat menjadi 4,67 persen. Namun pada triwulan III meningkat lagi menjadi 4,73 persen. Dengan belanja liburan akhir tahun yang cukup besar, bukan mustahil pada triwulan IV pertumbuhan bisa mencapai 4,8 persen.

Memang, data belanja libur akhir tahun masih sumir bila dijadikan indikator pertumbuhan ekonomi. Namun dengan kacamata positif, gairah belanja akhir tahun ini menunjukkan masyarakat optimistis dengan perbaikan ekonomi yang tengah berjalan.

Masyarakat "berani" membelanjakan uangnya bukan hanya untuk kebutuhan pokok, tapi kebutuhan berikutnya, yaitu rekreasi.

Optimisme itu bukan tanpa dasar. Setidaknya, ada beberapa faktor yang memengaruhinya. Misalnya nilai tukar rupiah yang relatif stabil pada kisaran Rp13.700 dibanding dolar AS, padahal beberapa bulan sebelumnya sempat menembus Rp14.700.

Juga tingkat inflasi kumulatif sepanjang 2015 yang bisa ditekan di bawah 3 persen, perkiraaannya 2,78 persen. Selain itu Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia memprediksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 akan berkisar 5,2-5,5 persen. Tentu bukan terkaan tanpa alasan.

Mari mengambil hikmahnya, di balik wajah muram kemacetan lalu lintas liburan akhir tahun, ada senyum optimisme perbaikan ekonomi.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1Ps0R5x
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat