Cuaca ekstrem, puluhan orang tewas dan ratusan ribu mengungsi

Banjir melanda kawasan Asuncion, Paraguay, pada 22 Desember 2015.
Banjir melanda kawasan Asuncion, Paraguay, pada 22 Desember 2015.

Dalam kurang dari sepekan belakangan, dunia menyaksikan dampak El Nino dan pemanasan global di sejumlah tempat seperti Amerika Serikat, Amerika Selatan, Inggris. Selain melahap korban jiwa dan cedera, fenomena cuaca ekstrem mengakibatkan ratusan ribu orang terpaksa mengungsi.

Di banyak wilayah Paraguay, Argentina, Uruguay, dan Brasil, banjir terburuk dalam 50 tahun terakhir memicu evakuasi lebih dari 150.000 orang, demikian lansiran BBC. Limpahan air itu berasal dari tiga sungai besar yang tidak sanggup lagi menahan tingginya debit air akibat hujan deras yang jatuh berhari-hari.

Paraguay, negeri dengan banjir terparah, mengumumkan keadaan darurat. Sekitar 130.000 ribu penduduk meninggalkan rumah dan menuju ke lokasi lebih aman.

Sementara itu, 20 ribu orang di Argentina juga mengungsi karena banjir. Air liar liar sepenuhnya merendam kota sebelah timur negeri yang berbatasan langsung dengan Uruguay, Concordia, yang 7000 penduduknya harus mengungsi.

Di Uruguay sendiri, lebih dari 9000 orang mau tak mau mesti hengkang dari rumah.

Banjir tidak hanya melanda tiga negara Amerika Selatan itu, tapi juga Brasil. Sekitar 1.800 keluarga di negara bagian Rio Grande do Sul mengungsi. Pada Sabtu pekan lalu, President Dilma Rousseff melakukan inspeksi udara guna memonitor 40 kota yang terendam.

Cuaca ekstrem juga menyambangi sebagian Amerika Serikat lewat hantaman angin topan dan banjir di Texas, Missouri, dan New Mexico, untuk menyebut sejumlah negara bagian. Setidaknya, dilansir Reuters, 43 orang tewas dari rentetan bencana tersebut.

Gubernur Missouri dan New Mexico langsung mempermaklumkan keadaan darurat di masing-masing negara bagiannya.

Korban tewas terbanyak tercatat di Dallas, Texas, yang selama akhir pekan dihembalang angin kencang yang sempat mencapai kecepatan 322 km/jam. Sekitar 11 warga dilaporkan meninggal di lokasi tersebut.

Badan meteorologi AS pada Minggu (27/11) membenarkan bahwa tiga angin ribut muncul pada badai yang mengoyak kawasan Dallas. Ratusan bangunan tidak sanggup menenggang kekuatan angin sehingga porak-poranda.

Menurut laporan USA Today, badai yang datang pada bulan Desember adalah gejala alam yang ganjil.

Biasanya, di bulan pengujung tahun, berdasar data yang terekam sejak awal dasawarsa 1950-an, rata-rata hanya terjadi sekitar 24 angin ribut. Namun, tahun ini, setidaknya 60 insiden angin ribut terdatakan pada Desember.

Hujan deras di beberapa wilayah Inggris turut pula menyebabkan banjir yang mengharuskan diungsikannya ratusan warga. The Guardian melaporkan bahwa kota Manchester dan Leeds terancam oleh ketinggian air sungai yang tidak biasa.

Badan cuaca Inggris (Met Office) mengeluarkan peringatan berskala puncak bagi kedua wilayah itu. Menurut institusi tersebut, nyawa manusia menjadi taruhan jika peringatan diabaikan. Di pihak lain, badan lingkungan Inggris (EA) merilis 31 peringatan banjir ganas selain ratusan peringatan banjir biasa.

Menanggapi situasi barusan, Met Office menyatakan pelbagai peristiwa menyangkut cuaca di sejumlah kawasan dunia agaknya berkenaan dengan fenomena El Nino, yang kemudian memperburuk dampak perubahan iklim.

Menjadi gejala tujuh hingga delapan tahunan, El Nino tahun ini memburuk dan menjadi salah satu yang paling mengancam dalam sejarah kemunculannya. Tidak mengherankan jika suhu udara, curah hujan, dan cuaca ekstrem memecahkan rekor.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1UcWKvq
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat