Beragam cara memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW

Umat muslim mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (24/12/2015). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Rasulullah dan dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla tersebut diikuti ribuan umat muslim.
Umat muslim mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Istiqlal, Jakarta, Kamis (24/12/2015). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Rasulullah dan dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla tersebut diikuti ribuan umat muslim.

Memperingati Maulid Nabi Muhammad, SAW, dilakukan untuk mengenang perjuangannya. Maulid Nabi di Indonesia diperingati secara luas pada 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah. Tahun ini, bertepatan dengan 3 Januari dan 24 Desember 2015. Keragaman budaya di Indonesia, turut mewarnai bentuk peringatan hari kelahiran Nabi besar umat muslim ini.

Di ujung barat nusantara, Aceh misalnya, dikenal dengan sebutan Kanduri Maulod atau Kenduri Maulid. Masyarakat Aceh menyebut acara ini sebagai peringatan hari kelahiran Pang Ulee (penghulu alam) Nabi Muhammad SAW. Karena itu kenduri ini sering juga disebut Kanduri Pang Ulee.

Dikisahkan di situs gampong (desa) Pohroh, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, dalam banyak tradisi budaya yang berkembang di masyarakat Aceh, memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan yang terbesar dan paling lama, yaitu selama tiga bulan.

Kenduri Maulid yang dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal disebut Maulod Awai (Maulid Awal) yang dimulai 12 Rabiul Awal sampai berakhirnya bulan Rabiul Awal.

Sedangkan yang dilaksanakan pada bulan Rabiul Akhir disebut Maulod Teungoh (Maulid Tengah), dimulai pada 1 Rabiul Akhir sampai berakhirnya bulan Rabiul Akhir.

Selanjutnya, Kenduri Maulid pada bulan Jumadil Awal disebut Maulod Akhee (Maulid Akhir) yang dilaksanakan sepanjang bulan Jumadil Awal.

Dijelaskan pula bahwa acara Kenduri Maulid biasanya dilaksanakan di mushola atau masjid. Hidangan yang tersedia dibawa para jamaah dari rumah, disantap bersama-sama setelah memanjatkan doa bersama.

Tapi ada satu pantangan saat Kenduri Maulid, yaitu makanan yang disediakan harus dihabiskan. Jika masih tersisa, harus dibawa pulang. Makanan kenduri pantang ditelantarkan karena ini adalah sedekah.

Gunungan onde-onde saat tradisi Kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 H di Kota Mojokerto, Jawa Timur (24/12/2015). Gunungan onde-onde setinggi 3 meter itu sebagai simbol jajanan khas Kota Mojokerto dan dijadikan sebagai agenda pariwisata tahunan setiap Maulid Nabi
Gunungan onde-onde saat tradisi Kenduri Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 H di Kota Mojokerto, Jawa Timur (24/12/2015). Gunungan onde-onde setinggi 3 meter itu sebagai simbol jajanan khas Kota Mojokerto dan dijadikan sebagai agenda pariwisata tahunan setiap Maulid Nabi

Di Padang Pariaman, Sumatera Barat, pohon uang atau "Bungo Lado" meramaikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Masyarakat Patamuan di Padang Pariaman, juga menyebutnya sebagai Kajombong, atau hiasan berbentuk pohon dengan banyak ranting.

Pada ranting-ranting itu, daunnya berupa uang kertas pecahan Rp2 ribu, hingga Rp100 ribu. Kajombong itu merupakan bentuk sumbangan bersama dari masyarakat atas nama pemuda dua dusun dalam nagari, dan satu lagi dari para urang sumando, mereka yang menikah dengan perempuan setempat.

Dilaporkan Sumbar Online, kajombong dibuat oleh pihak penyumbang dari lingkungannya. Setelah semua uang kertas itu dilekatkan pada ranting-ranting, membentuk pohon, beramai-ramai diantarkan ke masjid yang melaksanakan peringatan Maulid Nabi.

Kajombong yang bisa mencapai ketinggian 1,5 meter, bisa memuat uang hingga Rp1 juta bahkan lebih. Uang sumbangan itu kemudian digunakan untuk membangun atau merenovasi masjid.

Pedagang pernak pernik bunga Maulid di kios Pasar Banyuwangi, Jawa Timur (21/12/2015)
Pedagang pernak pernik bunga Maulid di kios Pasar Banyuwangi, Jawa Timur (21/12/2015)

Beda lagi dengan yang berlaku di Banyuwangi, Jawa Timur. Di sana dikenal Festival "Endog-endogan" atau arak-arakan membawa keliling telur. Endog-endogan merupakan tradisi masyarakat Banyuwangi yang telah dijalankan sejak puluhan tahun lalu.

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi di situs resminya menjelaskan, beberapa literatur menyebutkan tradisi ini diawali 12 tahun setelah berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) pada 1926, oleh tokoh agama dari Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

Mengapa telur? Sesuai filosofi telur, dalam telur memiliki tiga lapisan, yakni kulit (cangkang), putih, dan kuning. Ketiganya dinilai sebagai simbol dari nilai-nilai Islam. Kulit bermakna Iman, putih telur adalah Islam, dan kuning telur diartikan Ihsan.

Telur yang diarak biasanya ditancapkan pada jodang (batang pohon pisang). Penggunaan batang pisang itu juga memiliki makna dan simbol. Pohon ini tak akan mati sebelum berbuah, dan jika ditebas di dalamnya masih ada lapisan yang baru dan akan terus tumbuh.

Setelah diarak keliling kampung, jodang akan diletakkan di serambi masjid atau mushola dan akan dibagikan kepada masyarakat selepas pengajian dan makan bersama. Demikian laporan Kompas.com.

Tradisi endog-endogan tersebar di 24 kecamatan di wilayah Kabupaten Banyuwangi, terutama di wilayah-wilayah yang ditempati Suku Using, suku asli Banyuwangi. Mulai dari mushola kecil di desa, masjid, sekolah, bahkan organisasi Islam, semuanya menggelar tradisi endog-endogan.



from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1QK8oQT
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat