Bank infrastruktur Asia siap beroperasi awal 2016

Salah satu kawasan ramai Beijing. Di ibu kota Tiongkok ini, bank infrastruktur Asia (AIIB) bermarkas.
Salah satu kawasan ramai Beijing. Di ibu kota Tiongkok ini, bank infrastruktur Asia (AIIB) bermarkas.

Mulai Januari 2016, bank infrastruktur Asia atau Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) siap untuk beroperasi. Dipetik lewat Reuters, upacara pembukaan rencananya akan berlangsung pada medio Januari, bulan yang sama untuk memilih presiden bank dimaksud secara formal.

Dalam pengoperasiannya, bank tersebut nantinya akan berfokus pada pembiayaan berbagai proyek menyangkut pembangkitan tenaga listrik, transportasi, dan infrastruktur di Asia.

Menteri Keuangan Tiongkok, Lou Jiwei, dilansir VOA Indonesia, mengatakan bahwa pendirian bank terjadi setelah 17 anggota pendiri AIIB, yang penempatan modalnya mencapai 50,1 persen, meresmikan kesepakatan.

Ke-17 negara itu adalah Myanmar, Singapura, Brunei, Australia, Tiongkok, Mongolia, Austria, Inggris, Selandia Baru, Luksemburg, Korea Selatan, Georgia, Belanda, Jerman, Norwegia, Pakistan, dan Yordania.

Beberapa pihak menganggap bahwa AIIB merupakan pesaing Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB). Amerika Serikat dan Jepang telah menolak untuk bergabung dengan bank tersebut. Sejumlah negara maju seperti Australia, Jerman, dan Inggris, sebaliknya, tidak sungkan merapat.

Dengan modal dasar sebesar USD100 miliar, atau setara Rp1.360 triliun, arus pinjaman pertama diharapkan dapat mengalir pada pertengahan tahun depan.

Menilik sejarahnya, inisiatif pendirian AIIB diutarakan oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Perdana Menteri Tiongkok, Li Keqiang, saat berkunjung ke sejumlah negara Asia Tenggara pada Oktober 2013. Kala itu, AIIB dipandang dapat mempromosikan kesalingterhubungan serta penyatuan ekonomi di kawasan. Selain itu, AIIB juga dipandang dapat bekerja sasma dengan bank-bank pembangunan multilateral lain yang telah ada sebelumnya.

Menyusul permakluman itu, pelbagai pertemuan antarnegara diadakan demi membicarakan prinsip-prinsip serta elemen utama pendirian AIIB. Pada Oktober 2014, 22 negara Asia berkumpul di Beijing untuk meneken Nota Kesepahaman (MoU) pendirian AIIB.

Pada Juni 2015, Presiden Xi Jinping menjadi tuan rumah pertemuan 56 negara di Balairung Rakyat demi membicarakan pendirian AIIB. Di antara yang hadir adalah wakil negara-negara yang mendapat bujukan dari Washington untuk tidak menggabungkan diri ke dalam organisasi tersebut.

Australia, salah satu sekutu AS yang menjadi target lobi, adalah negara pertama yang menandatangani kesepakatan.

Tiongkok menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan sumbangan USD29,8 miliar atau sekitar Rp407,2 triiun.

Indonesia sendiri telah menganggarkan dana sebesar Rp3,73 triliun tahun depan sebagai setoran modal awal dalam pembentukan AIIB, demikian CNN Indonesia. Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro menjadi salah satu penanda tangan naskah Article of Agreement (AoA) pendirian AIIB di Beijing pada Juni silam.




from RSS Beritagar.id http://ift.tt/1IxZymc
via Hatree Indonesia

Posting Komentar

Lagi Hangat